Motif pada mahkota atau topi tradisional masyarakat Dayak Kenyah, yang dikenal dengan nama saung seling, bukan sekadar ukiran seni biasa. Di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, terdapat sebuah motif sakral berwujud manusia yang diyakini lahir dari kisah mistis dan legenda Hantu Petir.
Hal ini dituturkan oleh Limbang, seorang perajin saung seling asal Desa Long Kemuat keturunan suku Dayak Kenyah Lepo' Ke. Menurut Limbang, motif yang menghiasi saung (topi tradisional dan Gendongan (alat gendong bayi) kaum bangsawan (paren) ini memiliki cerita turun-temurun yang sangat dijaga oleh masyarakat adat.
"Sepertinya motif ini asalnya dari Hantu Petir dan seorang anak gadis. Cerita orang tua saya dulu, ada seorang gadis yang sangat cantik," tutur Limbang menceritakan awal mula legenda tersebut kepada detikKalimantan. Minggu (2/8).
Karena kecantikannya, gadis tersebut memikat hati banyak laki-laki. Banyak yang datang meminang, bahkan orang tuanya sendiri berusaha menjodohkannya. Namun, sang gadis menolak semua tawaran pernikahan tersebut.
"Hingga akhirnya, sesosok gaib yang dikenal sebagai Hantu Petir mengetahui bahwa ibu sang gadis terus memaksa anaknya untuk menikah. Hantu Petir tersebut kemudian mendekati sang gadis. Singkat cerita, gadis tersebut akhirnya mengandung," ucapnya.
Memasuki usia kehamilan enam bulan, sang ibu mulai curiga melihat perubahan fisik putrinya. Mengetahui anaknya hamil tanpa suami, sang ibu marah besar dan berniat mengusir gadis itu dari rumah untuk tinggal di sebuah pondok di dekat kuburan seberang.
"Gadis itu menangis pasrah. Namun malam harinya, Hantu Petir hadir memperingatkan sang ibu lewat mimpi," ungkapnya
"Hantu berkata kepada ibu sang gadis. kan kamu jodohkan anakmu sama aku. Mangkanya saya mendatangi dia. Pesan saya, mohon jangan tempatkan dia di kuburan. Nanti kalau dia melahirkan saya akan datang'," jelas Limbang.
Benar saja, menjelang proses persalinan, Ibu tersebut melihat ada sosok berwujud manusia tanpa wajah yang jelas masuk ke dalam kamar gadis tersebut pada malam hari.
"Mamaknya melihat manusia masuk kamar, tapi wajahnya tidak kelihatan. Sebelum bayi itu lahir, kilatan petir menyambar di luar rumah diiring munculnya bayi laki-laki." tutur Limbang dengan nada halus.
Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
(bai/bai)