Topi Bangsawan Dayak Kenyah Ini Tak Bisa Dibeli Sembarangan!

Kalimantan Utara

Topi Bangsawan Dayak Kenyah Ini Tak Bisa Dibeli Sembarangan!

Oktavian Balang - detikKalimantan
Minggu, 02 Agu 2026 20:59 WIB
Pembuatan saung seling oleh Limbang (kanan) dan rekannya.
Pembuatan saung seling oleh Limbang (kanan) dan rekannya. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Malinau -

Masyarakat Dayak Kenyah subsuku Lepo' Ke dan Lepo' Maut di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, memiliki penutup kepala tradisional yang sangat ikonik bernama saung seling. Bukan sekadar pelindung kepala biasa, topi berbahan rotan dan bambu ini adalah simbol status sosial tingkat tinggi.

detikKalimantan berkesempatan mengunjungi langsung lokasi pembuatan mahakarya tersebut di Desa Long Kemuat. Berdasarkan pantauan di lokasi, tampak dua wanita berpakaian adat wanita khas Dayak lengkap dengan aksesoris seperti gelang, kalung, dan topi adat, tengah apik menganyam saung seling.

Tangan-tangan terampil itu tampak begitu telaten dan sabar merajut bilah demi bilah rotan hingga membentuk kerangka topi penutup kepala tradisional tersebut. saung seling memang bukan anyaman biasa. Pada masa lampau hingga saat ini, saung seling bermotif khusus merupakan identitas eksklusif kaum bangsawan atau paren.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eksklusivitas budaya ini dijaga sangat ketat oleh para perajinnya, salah satunya adalah Ibu Limbang. Ia menegaskan bahwa saung seling tidak diproduksi secara massal dan pantang dijual kepada sembarang orang meski ada yang berani menawar harganya.

"Tidak sembarang juga jualnya. Kalau orang datang ke rumah mau beli, mereka harus jelaskan dulu dari keluarga mana," ungkap Limbang kepada detikKalimantan sambil menganyam. Minggu (2/8/2026).

Ia menegaskan, dirinya baru akan menyerahkan atau menjual saung seling buatannya jika pembeli tersebut terbukti memiliki silsilah keturunan bangsawan Dayak Kenyah yang berhak memakainya.

"Kalau saya tahu orang tuanya (berhak), baru saya kasih," tegasnya.

Aturan adat yang ketat dan tingkat kerumitan dalam membuat saung seling membuat pengrajin topi ini semakin langka. Sadar akan ancaman kepunahan, Limbang sudah mendedikasikan dirinya untuk belajar membuat saung seling sejak usia 18 tahun, diwariskan langsung dari orang tuanya.

"Orang tua saya yang ajarkan buatnya. Takut punah, nanti kalau orang tua sudah tidak ada, siapa lagi yang buat? Makanya dari umur 18 tahun saya mulai belajar," kenangnya.



(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads