Kota Singkawang di Kalimantan Barat (Kalbar) yang dikenal dengan julukan 'Kota Seribu Kelenteng' merupakan salah satu kota paling toleran di Indonesia. Salah satu tradisi unik yang digelar adalah Pawai Tatung ketika perayaan Cap Go Meh.
Yang paling dicari para wisatawan adalah momen atraksi para Tatung yang mengikuti pawai sambil menusukkan benda tajam menembus pipi atau tubuh mereka. Atraksi ini mungkin membuat ngilu sekaligus takjub.
Melalui pawai ini, terlihat harmoni antaretnis, terutama Tionghoa dengan Dayak. Bukan sekadar atraksi ekstrem dan toleransi antara manusia, tetapi juga alam roh.
Apa Itu Tatung?
Dalam Tatung Sebagai Budaya Masyarakat Tionghoa (Studi Komunikasi Ritual Tatung di Singkawang) dari Universitas Tarumanegara, Tatung dalam bahasa Mandarin disebut dengan Jitong. Tatung adalah hasil kepercayaan yang berasal dari upacara agama Dao.
Secara harfiah dalam bahasa Hakka, dikutip dari Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ) berjudul Pawai Tatung: Ritual Komunikatif Perekat Budaya di Kota Singkawang Kalimantan Barat, Tatung memiliki arti orang yang dirasuki oleh roh, dewa, leluhur, ataupun kekuatan supranatural.
Istilah lain yang juga sering digunakan adalah Lauya. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, Tatung berfungsi sebagai media atau perantara komunikasi antara dunia manusia dengan dunia roh atau dewa.
Keberadaan Tatung tidak bisa dilepaskan dari perayaan Cap Go Meh di Singkawang. Pada perayaan hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek, digelar Pawai Tatung yang bertujuan membersihkan kota dari roh jahat dan kesialan.
(bai/bai)