Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kini mulai merambah sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalteng mencatat sebanyak 40 debitur terdampak dengan total baki debet kredit dan pembiayaan mencapai Rp10,32 miliar.
Kepala OJK Kalteng Primandanu Febriyan Aziz mengatakan, karhutla dan kabut asap yang berkepanjangan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat maupun dunia usaha. Kondisi tersebut dikhawatirkan ikut memengaruhi kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban kredit dan pembiayaan kepada lembaga jasa keuangan.
"Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap lembaga jasa keuangan. OJK mencatat sebanyak 40 debitur terdampak dengan total baki debet kredit dan pembiayaan mencapai Rp10,32 miliar," kata Primandanu, Rabu (7/10/2026).
Berdasarkan data OJK hingga 5 Oktober 2026, selain kredit dan pembiayaan terdampak sebesar Rp 10,32 miliar, terdapat potensi klaim yang diajukan mencapai Rp 455,82 juta.
"OJK menilai angka tersebut menunjukkan efek karhutla mulai merembet ke aktivitas ekonomi. Ketika usaha masyarakat terganggu akibat kebakaran maupun kabut asap, kemampuan untuk memenuhi kewajiban pembiayaan juga berpotensi ikut tertekan," katanya.
Sementara itu, data BPBD Kalteng dan BPBD Kota Palangka Raya hingga 5 Oktober 2026 mencatat 248.531 titik panas dan 7.634 kejadian kebakaran. Luas lahan yang terbakar mencapai 16.211,83 hektare.
Sejumlah wilayah dengan sebaran titik panas tinggi antara lain Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, Kapuas, Palangka Raya dan Seruyan. Khusus Palangka Raya, tercatat 801 kejadian kebakaran dengan luas lahan terbakar mencapai 1.390,02 hektare, terutama di Kecamatan Jekan Raya dan Sebangau.
Dampak karhutla juga tercermin dari sektor kesehatan dan pendidikan. Tercatat 109.813 kasus ISPA, 25.701 kasus diare, serta 223 sekolah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Kondisi udara Palangka Raya bahkan sempat berada pada level sangat buruk. AQI tercatat mencapai 1.419 US, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 1.252 mikrogram per meter kubik.
Primandanu menegaska rangkaian dampak tersebut menunjukkan karhutla tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga dapat berimbas terhadap ketahanan ekonomi masyarakat.
"Gangguan terhadap aktivitas masyarakat dan dunia usaha dapat berlanjut menjadi persoalan ekonomi, termasuk terhadap kemampuan debitur membayar kewajibannya," pungkasnya.
OJK pun terus mencermati perkembangan dampak karhutla terhadap sektor jasa keuangan. Jika kebakaran dan kabut asap berlangsung lebih lama, tekanan terhadap debitur berpotensi meningkat dan dapat memengaruhi kualitas kredit maupun pembiayaan di Kalteng.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
(des/des)