Karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak hanya menyisakan persoalan lingkungan. Kabut asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah mulai memicu tekanan serius terhadap kesehatan masyarakat.
Berdasarkan Laporan Harian SIRINE Pos Komando Darurat Bencana Karhutla per 18 September 2026, tercatat 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh Kalimantan Tengah.
Selain ISPA, kasus diare juga tercatat tinggi. Akumulasi kasusnya mencapai 22.533 kasus, menambah beban pelayanan kesehatan di tengah kondisi karhutla yang masih berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengatakan pemerintah terus memperkuat langkah perlindungan masyarakat, terutama menghadapi dampak kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan warga.
"Kita harus memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan dan layanan yang dibutuhkan di tengah kondisi seperti ini," kata Agustiar, Minggu (20/9/2026).
Lonjakan kasus kesehatan terjadi seiring dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah. Pada pekan kedua September 2026 saja, tercatat tambahan 5.512 kasus ISPA.
Sementara itu, kasus diare yang tercatat pada pekan pertama September mencapai 1.052 kasus. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada 17 September 2026 menunjukkan kualitas udara yang buruk di sejumlah daerah. Kabupaten Gunung Mas tercatat berada di angka 423, sedangkan Murung Raya mencapai 409, dengan parameter kritis PM2,5.
Di Palangka Raya, stasiun Mobile AQMS BPBD Kalteng mencatat angka 251. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya kelompok rentan terhadap paparan asap.
Kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang. Data BMKG pada pukul 15.00 WIB menunjukkan seluruh wilayah pantauan berada dalam kondisi berasap.
Kondisi terparah tercatat di Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang hanya sekitar 0,2 kilometer atau 200 meter. Sementara di Sampit jarak pandang mencapai 0,5 kilometer, Palangka Raya 0,7 kilometer dan Pangkalan Bun 1,5 kilometer.
"Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, pemerintah telah menyiapkan 169 lokasi rumah oksigen yang tersebar di sejumlah wilayah. Selain itu, sembilan kabupaten/kota juga telah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi sekolah yang terdampak kabut asap," ujarnya.
Agustiar menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran harus berjalan beriringan dengan langkah perlindungan masyarakat agar dampak asap tidak semakin meluas.
