Kalimantan Tengah

PM2.5 Tembus 592,6 di Kobar, Kesehatan Dipertaruhkan Demi Bisa Makan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Sabtu, 10 Okt 2026 21:29 WIB
Foto: Asap masih pekat di dalam kota Pangkalan Bun, Sabtu (10/10/2026) sore. (dok Istimewa)
Kotawaringin Barat -

Akibat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, angka partikel halus PM2.5 di Pangkalan Bun mencapai 592,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi udara ini masuk dalam kategori berbahaya.

Di tengah ancaman kesehatan tersebut, warga menghadapi dilema. Mereka yang mengandalkan penghasilan harian tetap harus keluar rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi sebagian masyarakat, mengurangi aktivitas di luar ruangan bukan perkara mudah. Ketika kebutuhan pokok harus tetap terpenuhi, bekerja menjadi pilihan yang sulit ditinggalkan meski udara yang dihirup telah tercemar asap.

Suhairi, seorang pedagang warga Kotawaringin Lama, menjadi salah satu yang merasakan dilema tersebut. Setiap hari, ia menempuh perjalanan pulang-pergi dari Kotawaringin Lama ke Pangkalan Bun untuk berjualan.

Pagi hari, Suhairi berangkat menuju Pasar Pangkalan Bun untuk membeli barang dagangan. Setelah itu, ia kembali ke Kotawaringin Lama pada siang hari untuk melanjutkan aktivitas mencari nafkah.

Di tengah kondisi udara yang memburuk, ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan. Berhenti bekerja berarti kehilangan pemasukan, sedangkan kebutuhan makan dan biaya hidup keluarga tidak bisa ditunda.

"Kalau tidak kerja, buat makan dan bayar kebutuhan bagaimana? Kami warga terdampak akibat ulah manusia yang sengaja membakar lahan demi keuntungan pribadi, tetapi ribuan bahkan jutaan manusia ikut terdampak," kata Suhairi, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, masyarakat yang tidak terlibat dalam pembakaran lahan justru harus menanggung dampaknya. Selain menghadapi risiko kesehatan, warga yang bekerja di sektor informal juga harus tetap beraktivitas agar dapur keluarga tetap mengepul.

Sementara itu, Forecaster on Duty BMKG Kobar, Maulidianto, menyampaikan bahwa hasil pemantauan pada Sabtu (10/10/2026) menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Pangkalan Bun mencapai 592,6 µg/m³. Data pemantauan sejak pukul 00.00 hingga 11.00 WIB menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori berbahaya.

"PM2.5 merupakan partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Hardino, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar disarankan menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 dengan pemasangan yang rapat agar perlindungannya lebih optimal.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang semakin parah.

"Bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru perlu mendapat perhatian khusus selama kondisi udara memburuk. Jadi harus waspada," katanya.



Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"

(bai/bai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork