Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, cenderung semakin pekat saat sore hingga malam hari. Kondisi ini ternyata berkaitan dengan perubahan suhu, kelembapan, dan pergerakan angin di dekat permukaan.
Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat Ni Kadek Trisna Dewi menjelaskan asap karhutla pada siang hari cenderung bergerak naik karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari. Namun, kondisi mulai berubah ketika memasuki sore. Permukaan Bumi mendingin dan perbedaan suhu antarlapisan udara dapat memicu terjadinya inversi suhu atau efek sungkup.
"Dalam kondisi tersebut, udara yang lebih dingin tertahan di dekat permukaan, sedangkan udara yang lebih hangat berada di atasnya. Akibatnya, asap menjadi lebih sulit bergerak naik dan dapat terperangkap di dekat permukaan," ujarnya, Kamis (17/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor lain yang ikut memperparah kondisi adalah melemahnya angin permukaan pada sore hingga malam hari. Ketika angin tidak cukup kuat untuk membawa asap menjauh, konsentrasi asap di suatu wilayah dapat meningkat.
"Kondisi ini semakin berpotensi terjadi di wilayah yang terdapat kebakaran lahan gambut. Pembakaran gambut dapat menghasilkan asap secara terus-menerus melalui proses smoldering, meskipun kobaran api di permukaan tidak selalu terlihat besar," ujarnya.
Asap yang dihasilkan sejak siang kemudian dapat terakumulasi. Saat suhu permukaan turun dan angin melemah, asap tersebut lebih mudah bertahan di lapisan udara dekat permukaan sehingga tampak semakin pekat pada sore hingga malam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kobar. Kepala Dinkes Kobar Hardino mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan asap karhutla karena mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
"Paparan asap dapat menyebabkan sejumlah keluhan, seperti iritasi mata, batuk dan gangguan pernapasan. Risiko tersebut perlu lebih diperhatikan oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil serta warga yang memiliki gangguan atau riwayat penyakit pernapasan," ujar Dino, Kamis (17/9/2026).
Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap semakin pekat. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, warga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan asap.
"Warga yang mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata atau keluhan pernapasan setelah terpapar asap juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Perlindungan terhadap kelompok rentan dinilai perlu menjadi perhatian selama kondisi asap masih terjadi," pungkasnya.
