Mengenal Gulma, Dampak dan Cara Mengendalikannya

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Jumat, 25 Sep 2026 14:00 WIB
Foto udara gulma atau tanaman liar memenuhi Waduk Manggar di kawasan Wisata Meranti, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (16/9/2026). (ANTARA FOTO/Angga Palguna)
Balikpapan -

Pada pertengahan bulan September lalu, gulma atau atau tanaman liar memenuhi Waduk Manggar di kawasan Wisata Meranti, Balikpapan, Kalimantan Timur. Gulma tumbuh memenuhi Waduk Manggar seluas 500 hektare hingga menghambat aktivitas perahu wisata.

Hal ini berdampak pada hilangnya pendapatan sektor pariwisata warga sekitar serta menyebabkan pendangkalan dan kurangnya pasokan air baku untuk saluran irigasi di wilayah sekitar. Sebetulnya, apa itu gulma? Mengapa pertumbuhannya banyak berdampak pada manusia?

Mengenal Gulma

Foto udara gulma atau tanaman liar memenuhi Waduk Manggar di kawasan Wisata Meranti, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (16/9/2026). Tumbuhnya gulma di waduk seluas 500 hektare itu mengakibatkan perahu wisata sulit melintas sehingga berdampak pada hilangnya pendapatan sektor pariwisata warga sekitar serta menyebabkan pendangkalan dan kurangnya pasokan air baku untuk saluran irigasi di wilayah sekitar. ANTARA FOTO/Angga Palguna/rwa. Foto: ANTARA FOTO/Angga Palguna

Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Keberadaannya menjadi salah satu kendala dalam kegiatan pertanian karena gulma dapat bersaing dengan tanaman budidaya untuk mendapatkan air, unsur hara, cahaya matahari, dan ruang tumbuh.

Meski demikian, istilah gulma sebenarnya bergantung pada tempat dan kondisi. Tumbuhan yang dianggap bermanfaat di suatu wilayah dapat dikategorikan sebagai gulma ketika tumbuh di lokasi yang tidak dikehendaki dan mengganggu tanaman atau aktivitas manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gulma adalah tumbuhan yang termasuk bangsa rumput yang merupakan pengganggu bagi kehidupan tanaman utama atau tumbuhan pengganggu. Gulma dapat menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi dan juga menjadi sarang hama dan penyakit.

Dalam laman Kementerian Pertanian dan Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak, dijelaskan keberadaan gulma menimbulkan kompetisi yang sangat merugikan bagi tanaman utama. Gulma bersaing memperebutkan air, unsur hara, cahaya matahari, serta ruang tumbuh.

Gulma harus dikendalikan karena keberadaannya dapat menghambat perkembangan tanaman dan menurunkan hasil panen. Misalnya pada tanaman kelapa sawit, gulma akan bersaing dalam mendapatkan unsur hara, cahaya, iklim mikro, menyumbat saluran drainase yang dapat menyebabkan areal terendam air, hingga menyulitkan evakuasi hasil panen dan pada akhirnya menurunkan produktifitas kebun.




(aau/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

detikNetwork