Pada pertengahan bulan September lalu, gulma atau atau tanaman liar memenuhi Waduk Manggar di kawasan Wisata Meranti, Balikpapan, Kalimantan Timur. Gulma tumbuh memenuhi Waduk Manggar seluas 500 hektare hingga menghambat aktivitas perahu wisata.
Hal ini berdampak pada hilangnya pendapatan sektor pariwisata warga sekitar serta menyebabkan pendangkalan dan kurangnya pasokan air baku untuk saluran irigasi di wilayah sekitar. Sebetulnya, apa itu gulma? Mengapa pertumbuhannya banyak berdampak pada manusia?
Mengenal Gulma
Foto udara gulma atau tanaman liar memenuhi Waduk Manggar di kawasan Wisata Meranti, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (16/9/2026). Tumbuhnya gulma di waduk seluas 500 hektare itu mengakibatkan perahu wisata sulit melintas sehingga berdampak pada hilangnya pendapatan sektor pariwisata warga sekitar serta menyebabkan pendangkalan dan kurangnya pasokan air baku untuk saluran irigasi di wilayah sekitar. ANTARA FOTO/Angga Palguna/rwa. Foto: ANTARA FOTO/Angga Palguna |
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Keberadaannya menjadi salah satu kendala dalam kegiatan pertanian karena gulma dapat bersaing dengan tanaman budidaya untuk mendapatkan air, unsur hara, cahaya matahari, dan ruang tumbuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, istilah gulma sebenarnya bergantung pada tempat dan kondisi. Tumbuhan yang dianggap bermanfaat di suatu wilayah dapat dikategorikan sebagai gulma ketika tumbuh di lokasi yang tidak dikehendaki dan mengganggu tanaman atau aktivitas manusia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gulma adalah tumbuhan yang termasuk bangsa rumput yang merupakan pengganggu bagi kehidupan tanaman utama atau tumbuhan pengganggu. Gulma dapat menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi dan juga menjadi sarang hama dan penyakit.
Dalam laman Kementerian Pertanian dan Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak, dijelaskan keberadaan gulma menimbulkan kompetisi yang sangat merugikan bagi tanaman utama. Gulma bersaing memperebutkan air, unsur hara, cahaya matahari, serta ruang tumbuh.
Gulma harus dikendalikan karena keberadaannya dapat menghambat perkembangan tanaman dan menurunkan hasil panen. Misalnya pada tanaman kelapa sawit, gulma akan bersaing dalam mendapatkan unsur hara, cahaya, iklim mikro, menyumbat saluran drainase yang dapat menyebabkan areal terendam air, hingga menyulitkan evakuasi hasil panen dan pada akhirnya menurunkan produktifitas kebun.
Jenis Gulma dan Dampak Buruknya
Pertumbuhan gulma yang tidak terkendali bukan hanya dapat menghambat tanaman, tetapi juga berpotensi menjadi tempat berlindung bagi hama dan penyakit. Dalam kondisi tertentu, keberadaan gulma bahkan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen.
Berikut beberapa jenis gulma beserta dampak buruk yang dihasilkan, dirangkum dari buku Pengelolaan Alang-Alang di Lahan Petani oleh Heru Suryaningtyas dkk, karya ilmiah Inventarisasi dan Potensi Gulma pada Perkebunan Karet oleh Septi Lailia Suknia, dan sejumlah literatur:
1. Alang-alang (Imperata cylindrica)
Alang-alang termasuk dalam 10 gulma paling buruk di dunia. Tumbuhan satu ini bisa menyebabkan masalah serius terhadap 35 jenis tanaman, seperti kentang, kapas, dan karet.
Alang-alang mampu menekan pertumbuhan beberapa tanaman pangan akibat zat alelopati yang dihasilkannya. Zat beracun ini dihasilkan dari daun dan rimpang alang-alang, baik dalam kondisi segar maupun membusuk.
Tidak hanya menekan pertumbuhan, kehadiran alang-alang juga berpotensi menyebabkan tanaman mati muda. Bila tidak sampai membunuh, alang-alang akan menyaingi tanaman utama dalam memanfaatkan unsur hara dan air dalam tanah, utamanya pada musim kering, sehingga sangat mengganggu.
2. Grinting (Cynodon dactylon L.)
Gulma beracun berikutnya adalah rumput grinting. Yang membuatnya berbahaya, selain karena zat alelopati, adalah kemampuannya bertahan hidup. Rumput satu ini terkenal sulit dibasmi dengan teknik mekanik maupun kimia.
Kombinasi kemampuan sulit mati dan variasi habitat yang luas membuatnya jadi lawan tangguh para petani. Dilihat dari buku Gulma Tanaman Hortikultura Kota Tarakan oleh Aditya Murtilaksono dkk, rumput grinting punya akar serabut, berwarna cokelat, memiliki batang bulat, dan tumbuh menjalar di atas permukaan tanah. Tumbuhan gulma satu ini punya ciri khas daun majemuk bermodel pinnately compound.
3. Kirinyuh (Chromolaena odorata L.)
Diduga punya efek alelopati serta menyebabkan keracunan atau bahkan kematian pada hewan ternak, tumbuhan kirinyuh adalah salah satu gulma yang perlu diwaspadai. Diringkas dari Jurnal Litbang Pertanian berjudul 'Tumbuhan Kirinyu Chromolaena Odorata (L) (Asteraceae: Asterales) Sebagai Insektisida Nabati untuk Mengendalikan Ulat Grayak Spodoptera litura' oleh M Thamrin dkk, gulma kirinyuh dikenal sebagai siam weed dalam bahasa Inggris.
Tumbuhan satu ini tersebar sangat luas di Indonesia. Daun oval lebar khasnya bisa dijumpai di berbagai macam kondisi geografis, mulai dari lahan kering, pegunungan, rawa, hingga tipe lahan basah lain. Gulma ini mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghalangi perkembangan tanaman lain.
4. Teki (Cyperus rotundus)
Dilihat dari dokumen unggahan Repository Poltekkes, rumput teki tumbuh hampir di semua tipe tanah, ketinggian, maupun kelembapan. Hanya saja, gulma satu ini diketahui tidak bisa bertahan hidup di tanah dengan kadar garam tinggi.
Lebih lanjut, menurut informasi dari buku Gulma Pertanian Sebagai Herbal Alami oleh Nita dkk, beberapa dampak negatif kehadiran rumput teki di sektor pertanian adalah:
- Mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya karena rumput teki liar bisa menyebar cepat dan menutupi area luas. Akibatnya, tanaman budidaya harus bersaing dengan rumput teki untuk mendapat unsur hara.
- Menurunkan hasil panen karena tanaman yang dibudidayakan gagal tumbuh maksimal.
- Menambah biaya perawatan. Kemampuan hidup rumput teki yang begitu ampuh membuatnya dapat tumbuh tak terkendali. Oleh karena itu, para petani sering kali harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengendalikan populasinya.
- Sama seperti gulma-gulma sebelumnya, rumput teki juga menghasilkan senyawa alelopati. Zat racun yang mengganggu kehidupan tanaman pertanian ini dihasilkan dari cairan akar rumput teki maupun sisa-sisa tumbuhannya yang telah membusuk.
5. Sembung Rambat/Mikania (Mikania micrantha HBK)
Gulma kelima yang juga beracun sehingga menghambat pertumbuhan tanaman budidaya adalah sembung rambat. Menurut informasi dari Jurnal Protobiont bertajuk 'Potensi Ekstrak Daun Sembung Rambat (Mikania micrantha H.B.K) Sebagai Bioherbisida terhadap Gulma Maman Ungu (Cleome rutidosperma D.C) dan Rumput Bahia (Paspalum notatum flugge)' oleh Pebriani dkk, sembung rambat punya senyawa alelokimia berupa fenol, terpenoid, dan flavonoid.
Cukup dikatakan, ketiga senyawa tersebut berperan merusak tumbuh kembang tanaman budidaya. Oleh karena itu, sembung rambat harus segera diatasi. Apalagi, tanaman ini terkenal punya kapasitas reproduksi vegetatif dan seksual yang tinggi. Di samping itu, sembung rambat juga tumbuh sangat cepat.
Cara Mengendalikan Gulma
Penanganan gulma tergantung pada fisiologis dan jenis gulma, kararakteristik lahan serta umur tanaman. Pengendalian gulma dapat diawali dengan langkah preventif, seperti mengidentifikasi jenis gulma yang dominan dan mencegah penyebarannya.
Pengendalian juga dapat dilakukan melalui kultur teknis dengan mengatur populasi tanaman, menerapkan sistem tanam juring ganda, melakukan tumpang sari dengan kacang tanah atau bawang merah, serta menggunakan mulsa jerami atau tanaman penutup tanah guna menghambat perkecambahan gulma.
Ketika gulma mulai tumbuh dan berkembang, penyiangan secara mekanis dapat dilakukan menggunakan cangkul, garpu, atau koret. Penggunaan herbisida menjadi alternatif terakhir jika populasi gulma telah tinggi dan sulit dikendalikan secara manual.
Mengacu pada lama resmi Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak, secara garis besar dapat membagi cara penanganan gulma menjadi lima kelompok. Berikut penjelasannya:
1. Pencegahan Pencegahan (Preventif)
Merupakan usaha pengendalian melalui upaya-upaya pencegahan. Seperti, membersihkan lahan dari rumput sebelum membudidayakan tanaman dan menggunakan pupuk kandang yang sudah matang agar mencegah kontaminasi gulma.
2. Pencegahan Fisik/Mekanis
Merupakan usaha pengendalian yang menggunakan tenaga manusia atau menggunakan alat-alat mekanisasi seperti mencabut dan membersihkan gulma dengan tangan dan menggunakan alat-alat mekanis seperti traktor.
3. Pencegahan Kimiawi
Merupakan pencegahan yang menggunakan bahan-bahan kimia tertentu untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma. Bahan kimia yang digunakan biasa disebut dengan herbisida.
4. Pencegahan Teknis
Merupakan pencegahan secara kultur, seperti pemberian mulsa, penanaman naungan, dan menggunakan pola tertentu agar menekan pertumbuhan gulma.
5. Pencegahan Biologis
Merupakan pencegahan menggunakan jasad hidup tertentu. Contohnya, menggunakan Krinyuh karena serangga ini dapat memakan daun, pucuk, tunas muda, dan batang kulit sehingga dapat mematikan gulma.
Tumbuhnya Gulma Tak Selalu Merugikan
Warga membawa tanaman eceng gondok untuk dijemur di Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/10/2025). Tanaman gulma tersebut dijual oleh warga setempat kepada perajin sebagai bahan baku produksi kerajinan tangan dengan harga Rp500 per kilogram untuk eceng gondok basah dan Rp6.000 per kilogram untuk eceng gondok kering. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/foc. Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar |
Dalam buku Mengenal Gulma oleh Sri Winarsih dijelaskan dengan banyaknya jenis gulma, beberapa di antaranya dapat bermanfaat. Mulai dari menjadi bahan industri kertas dan kerajinan, bahkan jadi bahan makanan dan sayuran.
Seperti yang dilakukan warga Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten,dalam arsip liputan detikcom diketahui mereka mengolah eceng gondok menjadi bahan kerajinan tangan.
Eceng gondok yang dijemur dijual Rp500 per kilogram untuk kondisi basah dan Rp6.000 per kilogram setelah kering, menjadi sumber pendapatan warga.
Eceng gondok yang dikenal sebagai gulma perairan dimanfaatkan warga Tangerang sebagai bahan baku kerajinan bernilai ekonomi tinggi.
Selain itu, ada juga gulma yang dipercaya dapat menjadi bahan obat tradisional, contohnya Amaranthus spinous untuk obat bisul. Gulma juga dimanfaatkan menjadi penghasil gas bio, yakni pada jenis Crotalaria anagyroides.
Tim peneliti dari Institut Pertanian Bogor bahkan pernah mengungkap gulma di pematang sawah dapat berperan penting dalam mengendalikan hama padi secara alami.
Penelitian menunjukkan bahwa alang-alang berfungsi sebagai habitat alami bagi serangga parasit, yakni musuh alami berbagai jenis hama. Salah satu serangga yang hidup di alang-alang, lalat ganjur (Orseolia javanica), selama ini diketahui merusak tanaman tersebut hingga 20 persen. Namun, keberadaan serangga ini ternyata juga mendatangkan manfaat tersendiri.
Tim peneliti berhasil mengidentifikasi spesies parasitoid baru yakni Platygaster orseoliae, yang mampu memangsa lalat ganjur tidak hanya pada alang-alang, tetapi juga pada tanaman padi saat musim tanam berlangsung.


