Gulma Bikin Wisata Air Enggak Seru, Pengunjung Bamboe Wanadesa Turun 50%

Gulma Bikin Wisata Air Enggak Seru, Pengunjung Bamboe Wanadesa Turun 50%

Ary Nindita Intan RS - detikKalimantan
Jumat, 02 Okt 2026 13:30 WIB
Wisata Air Bamboe Wanadesa
Wisata Air Bamboe Wanadesa/Foto: Ary Nindita Intan RS/detikKalimantan
Balikpapan -

Kemunculan gulma air di Waduk Manggar, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), mengganggu objek wisata Bamboe Wanadesa. Kondisi tersebut disinyalir terjadi akibat musim kemarau panjang.

Berdasarkan pengamatan detikKalimantan, hamparan gulma terlihat memenuhi sebagian permukaan air Waduk Manggar di kawasan wisata Bamboe Wanadesa. Kondisi itu membuat wisatawan tidak leluasa saat menikmati perjalanan menyusuri waduk.

Ketua Pokdarwis Wisata Bamboe Wanadesa, Murdianto menjelaskan gulma diperkirakan muncul sejak awal musim kemarau. Jumlahnya tahun ini disebut lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gulma ini memang sebenarnya selalu muncul setiap musim kemarau. Tapi jumlahnya lebih banyak tahun ini sih sepertinya. Jadi dia (gulma) jumlahnya terus bertambah makin banyak makin banyak gitu," ujarnya, Jumat (2/10/2026).

Murdianto menyebut gulma menutupi sebagian permukaan air Waduk Manggar. Kondisi ini khususnya menyasar objek wisata Tanjung Gading, Bamboe Wanadesa, hingga wisata Meranti.

Tumbuhan tersebut mulanya terbawa angin dan bergerak dari satu kawasan wisata ke kawasan lainnya. Gulma kemudian berkumpul membentuk hamparan seperti pulau di permukaan waduk.

"Dia (gulma) tuh kayak pulau berjalan kami sebutnya, bergerak terbawa angin gitu. Jadi dari Tanjung Gading, kemudian menuju ke arah kami (Bamboe Wanadesa), hingga menumpuk di wisata Meranti," ucap Murdianto.

Ia menilai kondisi tersebut turut mempengaruhi daya tarik wisatawan. Terlebih, wahana air pada objek wisata tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

"Dampaknya terutama untuk objek wisata air. Saat datang itu gulma, otomatis kapal nggak bisa berlayar. Semenjak ada gulma nggak seru, pengunjung yang tadinya mau berfoto dan menikmati suasana naik kapal jadi terhalang gulma," ungkapnya.

Keberadaan gulma di tengah musim kemarau turut berdampak pada aktivitas dan pendapatan sektor pariwisata. Bahkan, jumlah pengunjung merosot lebih dari 50% dibandingkan kondisi normal.

Untuk masuk ke kawasan wisata, pengunjung dikenakan tiket masuk Rp 5 ribu. Tarif parkir sepeda motor Rp 3 ribu dan mobil Rp 5 ribu. Sementara itu, wisatawan yang ingin menggunakan kapal dikenakan Rp 10 ribu per orang.

"Aduh, kalau untuk saat ini lagi menurun drastis. Apalagi musim kemarau, ditambah lagi dengan gulma, betul-betul menurun drastis. Persentase penurunannya mungkin lebih dari 50%," beber Murdianto.

gulma air di Waduk Manggargulma air di Waduk Manggar/ Foto: Ary Nindita Intan RS/detikKalimantan

Menurutnya, penanganan gulma secara manual tidak cukup untuk mengatasi jumlahnya yang semakin banyak. Pihaknya mengaku telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV.

"Sempat menyampaikan ke BWS Kalimantan IV terkait keluhan dan kekhawatiran kami, jika kondisi air terus menyusut gulma ini nggak hilang-hilang dan jumlahnya bisa bertambah," tuturnya.

Di sisi lain, debit air Waduk Manggar yang kian menyusut dapat memicu kemunculan gulma dalam jumlah lebih banyak. Penumpukan gulma dikhawatirkan membusuk saat debit air semakin rendah dan berdampak pada sektor pariwisata.

"Kalau mengandalkan secara manual itu nggak memadai, karena saking banyaknya gulma jadi nggak mengatasi. Kami takutnya saat betul-betul kering nih air, si gulma jadi membusuk dan mencemari air yang otomatis juga berdampak pada objek wisata," pungkasnya.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads