Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) belum benar-benar hilang dari atmosfer. Fenomena itu yang disebut menjadi salah satu penyebab asap sempat terlihat pekat di Samarinda, Balikpapan, hingga Kutai Timur pada 15-19 September.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan asap dari kebakaran yang berlangsung sejak beberapa pekan terakhir masih tertahan di lapisan atmosfer. Kondisi itu diperparah dengan lebih dari 30 hari tanpa hujan di sejumlah wilayah.
"Efek daripada kebakaran itu juga tidak bisa naik sampai ke atas, artinya berada di lapisan atmosfer tertentu dan semua itu tertahan di sana," kata Buyung saat konferensi pers di Posko Siaga Bencana Karhutla dan Kekeringan BPBD Kaltim, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, kondisi atmosfer tertentu dapat membuat asap yang tertahan tersebut turun mendekati permukaan bumi. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika tutupan awan menghalangi intensitas sinar matahari.
"Apabila tutupan awan itu terbuka, sinar matahari membuat asap itu naik kembali. Tetapi asap itu bukan berarti hilang, masih ada di atmosfer," paparnya.
Buyung mengatakan asap tersebut baru dapat benar-benar berkurang setelah terbawa hujan dengan intensitas cukup besar. Proses itu pun tidak cukup hanya dengan hujan dalam satu hari.
"Hal yang bisa menyebabkan asap itu benar-benar hilang, kita harus menunggu musim hujan atau hujan yang cukup masif. Dan itu tidak bisa dalam satu hari," katanya.
Berdasarkan perkiraan yang diterima BPBD, hujan mulai lebih aktif sekitar akhir Oktober. Artinya, masyarakat masih perlu mewaspadai kemunculan asap selama periode kemarau dan tingginya kejadian karhutla masih berlangsung.
"Selama belum musim hujan, asap itu masih ada dan tolong masyarakat menjaga dengan menggunakan masker terutama apabila terlihat bahwa asap itu masih cukup banyak," pungkasnya.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
(des/des)