Kaltim Mau Usul OMC tapi Belum Ada Awan, BPBD: Nanti Malah Hujan Garam

Kaltim Mau Usul OMC tapi Belum Ada Awan, BPBD: Nanti Malah Hujan Garam

Riani Rahayu - detikKalimantan
Jumat, 28 Agu 2026 12:01 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan/Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Samarinda -

Sebanyak 1.300 hotspot terdeteksi di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 1-26 Agustus 2026, di tengah kondisi cuaca kering. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menyebut penanganan karhutla terkendala sumber air hingga api yang berpotensi kembali menyala.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan mengatakan sulitnya mendapatkan sumber air mulai dirasakan petugas di sejumlah lokasi kebakaran. Salah satunya di kawasan Pendingin yang biasanya memiliki genangan air cukup tinggi namun kini mengering.

"Betul sekali. Sumber air ini salah satu persoalan. Apalagi seperti di Pendingin, kalau kondisi normal di sana itu rawa dan air bisa setengah badan. Sedangkan sekarang lagi kekeringan," kata Buyung, Kamis (27/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buyung mengatakan kondisi lahan yang sangat kering turut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit. Bahkan, lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan berpotensi kembali terbakar akibat material sisa kebakaran yang terbawa ke area lainnya.

"Memang ada potensi asap abu itu kebakaran itu masuk ke dalam, terbang dan pindah ke tempat lain. Sementara karena kekeringan ini jadi mudah sekali terbakar. Kebakaran mudah menyulut api lagi," ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, BPBD mencatat sekitar 1.300 hotspot terdeteksi di Kaltim sepanjang 1 hingga 26 Agustus. Namun Buyung menegaskan jumlah tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian karhutla.

"Hotspot itu potensi. Itu kan bacaan dari satelit bahwa ada anomali suhu di sana. Bisa jadi itu kebakaran, bisa jadi orang yang lagi bakar-bakaran atau obor, bisa jadi atap seng, bisa jadi lahan tambang," jelasnya.

Karena itu, lanjut dia, setiap hotspot masih perlu diverifikasi untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Salah satu wilayah yang terpantau memiliki jumlah titik panas cukup tinggi yakni Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

"Proses verifikasi juga dilakukan bersama jajaran kepolisian. Titik panas yang terpantau dapat diteruskan kepada Bhabinkamtibmas di wilayah masing-masing untuk dilakukan pengecekan," terangnya.

Di sisi lain, BPBD Kaltim turut mengusulkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya menghadapi kondisi kering. Namun pelaksanaannya tetap bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat serta keputusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Kalau sekarang kondisinya lagi kering, enggak ada awan, ya kalau nanti taruh garam jadi hujan garam saja," kata Buyung sambil bergurau.

Selain OMC, kebutuhan sumber air permanen juga mulai menjadi perhatian BPBD. Salah satu yang dipertimbangkan yakni pembuatan sumur dalam atau deep well untuk mengantisipasi sumber air yang mengering saat kemarau panjang.

"Kalau musim hujan tiga meter saja dapat. Nah, ini benar-benar kalau musim kering kayak gini, jangka panjang, ya sudah pas musim kering gali dapat 100 meter atau enggak," ungkapnya.

Tangki air juga dinilai dibutuhkan untuk membantu proses pemadaman di lokasi yang jauh dari sumber air. Namun pengadaan sarana tersebut masih bergantung pada keputusan pemerintah.

Sementara terkait anggaran, Buyung mengaku belum dapat merinci berapa dana yang telah digunakan untuk penanganan karhutla. Anggaran BPBD sejauh ini digunakan untuk kebutuhan operasional petugas di lapangan.

"Kalau kami operasional kan, kalau penanganan itu operasional saja. Operasional paling perjalanan dinas kalau misalnya perlu, bensin segala macam," katanya.

Buyung memastikan anggaran yang tersedia sejauh ini masih mencukupi untuk kebutuhan operasional. BPBD Kaltim juga mempertimbangkan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) apabila kebutuhan penanganan karhutla meningkat dan posko harus terus diaktifkan.

"Kita belum ada pengadaan juga. Terus air ya cari-cari, ya bisalah gitulah. Dengan tidak harus meminta dengan pihak manapun. Cukup dengan ada saja," pungkasnya.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads