Ancaman karhutla di Kalimantan Tengah belum mereda. Hingga Rabu (23/9/2026) malam, ribuan titik panas masih terdeteksi di sejumlah wilayah sehingga kecepatan informasi dan respons menjadi kunci untuk mencegah api berkembang lebih luas.
Berdasarkan data harian Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng, tercatat 8.093 hotspot hingga pukul 18.00 WIB. Pada periode yang sama, terdapat 88 kejadian karhutla dengan total luas area terbakar mencapai 195,57 hektare.
Data tersebut merupakan hasil pemantauan titik panas melalui BRIN dan Sipongi. Sementara data kejadian serta luasan lahan terbakar dihimpun dari laporan pemerintah kabupaten dan kota yang diterima Pusdalops BPB-PK Kalteng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pulang Pisau menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 2.381 titik. Disusul Kotawaringin Timur 1.292 titik, Seruyan 1.288 titik, Kotawaringin Barat 869 titik, Kapuas 764 titik dan Katingan 460 titik.
Dari sisi kejadian kebakaran, Kotawaringin Timur tercatat paling banyak dengan 18 kejadian dan luas area terbakar 12,78 hektare. Kapuas menyusul dengan 13 kejadian seluas 31,25 hektare, sedangkan Murung Raya dan Seruyan masing-masing mencatat 11 kejadian dengan luas 10,32 hektare dan 31,71 hektare.
Kalaksa BPB-PK Provinsi Kalteng Ahmad Toyib mengatakan tingginya jumlah titik panas menjadi perhatian serius. Menurutnya, data hasil pemantauan harus segera diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan agar indikasi kebakaran tidak berkembang menjadi api yang lebih besar.
"Yang paling penting dalam penanganan karhutla adalah kecepatan informasi dan kecepatan respons. Ketika ada indikasi titik api, kita harus segera bergerak agar tidak berkembang dan meluas," ujar Ahmad Toyib, Kamis (24/9/2026).
Ia menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar. Patroli, pencegahan dan pembasahan lahan terus dilakukan, terutama di kawasan yang memiliki karakteristik lahan gambut.
"Kita tidak hanya melakukan pemadaman. Pencegahan dan pembasahan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api," katanya.
Menurut Ahmad, lahan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Kondisi tersebut membuat titik yang terlihat sudah padam masih berpotensi kembali terbakar apabila proses pembasahan tidak dilakukan secara optimal.
Karena itu, penanganan karhutla dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat dan unsur penanggulangan bencana lainnya terus memperkuat koordinasi serta mengoptimalkan personel dan peralatan yang tersedia.
"Kami terus memperkuat penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan personel, sarana dan prasarana yang tersedia. Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah dilakukan secara berkelanjutan, sehingga setiap potensi karhutla dapat segera ditindaklanjuti," tegasnya.
BPB-PK Kalteng juga mengajak masyarakat menjadi bagian dari sistem pencegahan karhutla. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran serta menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api.
"Pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat kami harapkan ikut menjaga lingkungan, melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya karhutla," tutur Ahmad.
Dengan masih tingginya hotspot, pemantauan akan terus dilakukan di seluruh wilayah Kalteng. Pemerintah berharap respons yang cepat dan koordinasi lintas sektor dapat menekan luasan kebakaran sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap masyarakat dan kualitas udara.
