Matahari Merah Pekat di Kobar, BMKG Ungkap Penyebabnya

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Senin, 21 Sep 2026 18:00 WIB
Matahari merah pekat di Kobar/Foto: Sigit Pamungkas/detikKalimantan
Kotawaringin Barat -

Matahari terlihat merah pekat di Kotawaringin Barat (Kobar) saat wilayah tersebut diselimuti asap karhutla pada Senin (21/9/2026) sore. Fenomena tersebut menarik perhatian warga.

Namun sebenarnya, matahari tidak berubah warna. Fenomena tersebut merupakan efek optik di atmosfer akibat cahaya matahari yang melewati udara dengan konsentrasi partikel asap dan polutan yang tinggi.

Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat, Ni Kadek Trisna Dewi, S.Tr, menjelaskan warna merah yang terlihat pada matahari terjadi karena adanya hamburan cahaya ketika sinar matahari melewati atmosfer yang dipenuhi partikel asap.

"Fenomena ini bukan berarti matahari secara fisik berubah warna. Cahaya matahari mengalami hamburan cahaya akibat tingginya konsentrasi polutan di udara berupa asap kebakaran hutan," kata Ni Kadek.

Menurutnya, fenomena matahari terlihat kemerahan sebenarnya tidak hanya terjadi saat kabut asap karhutla. Dalam kondisi normal pun matahari dapat terlihat kuning hingga kemerahan, khususnya ketika pagi atau sore hari.

Hal tersebut terjadi karena cahaya matahari harus melewati lapisan atmosfer yang lebih panjang saat posisi matahari berada rendah di horizon. Cahaya kemudian berinteraksi dengan berbagai partikel yang terdapat di udara, seperti debu dan aerosol.

"Perbedaannya, ketika asap karhutla berada dalam konsentrasi tinggi, efek tersebut dapat terlihat lebih kuat. Banyaknya partikel di atmosfer membuat cahaya matahari mengalami proses hamburan dan penyaringan sebelum mencapai permukaan bumi," katanya.

Secara ilmiah, cahaya matahari terdiri dari berbagai panjang gelombang. Warna biru memiliki panjang gelombang lebih pendek, sedangkan warna merah memiliki gelombang lebih panjang.

Ketika atmosfer dipenuhi partikel asap dan aerosol, sebagian cahaya dengan panjang gelombang tertentu lebih banyak mengalami hamburan dan penyerapan. Cahaya dengan spektrum merah dan jingga kemudian dapat terlihat lebih dominan dari permukaan bumi.

"Kondisi inilah yang membuat matahari tampak merah pekat dan langit di sekitar Kobar terlihat berubah warna. Semakin tebal konsentrasi asap di atmosfer, efek visual tersebut dapat semakin jelas terlihat," ujarnya.

Fenomena matahari merah muncul di tengah kondisi karhutla yang masih menjadi perhatian di Kobar. Kepungan asap tidak hanya memengaruhi jarak pandang dan tampilan langit, tetapi juga berkaitan dengan meningkatnya konsentrasi polutan di udara.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan fenomena visual berupa matahari merah, tetapi juga kondisi kualitas udara. Ketika asap semakin pekat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara serta perkembangan cuaca.

"Dengan demikian, matahari merah darah yang terlihat di Kobar bukanlah perubahan warna matahari secara fisik. Fenomena tersebut merupakan efek atmosfer yang diperkuat oleh tingginya konsentrasi partikel asap karhutla di udara," pungkasnya.



Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"

(sun/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork