Alasan Matahari Jadi Merah Saat Karhutla Menurut Pakar

Alasan Matahari Jadi Merah Saat Karhutla Menurut Pakar

Cicin Yulianti - detikKalimantan
Minggu, 30 Agu 2026 08:00 WIB
Heboh Matahari Merah Pekat di Palangka Raya
Matahari merah di Palangka Raya. Foto: Istimewa (dok Sri Muliati)
Samarinda -

Fenomena matahari berwarna merah beberapa kali terjadi di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pakar menjelaskan bagaimana warna matahari bisa menjadi merah dalam kondisi tersebut, apakah berkaitan dengan asap kebakaran atau tidak.

Dilansir detikEdu, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan, membenarkan bahwa warna matahari menjadi merah berkaitan dengan asap karhutla. Perubahan penampakan matahari ini disebabkan partikel-partikel aerosol dalam asap, sehingga cahaya matahari menjadi berwarna lebih jingga bahkan merah.

"Sederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya Matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga," ujarnya dikutip dari laman IPB University.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada prinsipnya, lanjut Givo, cahaya matahari mudah terhamburkan pada saat kondisi atmosfer normal sehingga membuat langit bisa tampak biru. Sementara ketika kondisi udara dipenuhi kabut asap dengan partikel aerosol tadi, hamburan cahaya matahari bisa berubah tergantung ukuran, bentuk, hingga komposisi aerosol.

"Ketika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks," paparnya.

Givo menjelaskan kondisi ini kurang lebih mirip seperti saat matahari terbenam. Posisi matahari di dekat horizon membuat cahayanya harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang daripada ketika posisinya ada di atas.

"Semakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari," ujar Givo.

Meski ada kaitan antara kabut asap dan fenomena matahari berwarna merah, Givo meluruskan anggapan bahwa semakin merah warga matahari maka kualitas udaranya semakin buruk. Givo menegaskan bahwa warna matahari tidak bisa serta-merta disimpulkan sebagai ukuran kualitas udara.

"Asap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara," bebernya.

Givo menyebut ada banyak faktor yang berpengaruh pada menurunnya kualitas udara. Antara lain kelembapan, lapisan asap, awan, sudut matahri, dan kondisi angin. Masyarakat diimbau untuk mengakses informasi kualitas udara yang disediakan secara resmi oleh pihak berwenang.

"Jika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi," tutupnya.

Baca selengkapnya di sini.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads