Kalimantan Timur

Wamen LH Dorong Data Luasan Karhutla Terintegrasi

Muhammad Budi Kurniawan - detikKalimantan
Senin, 14 Sep 2026 18:13 WIB
Wamen LH RI Diaz Hendropriyono saat meninjau BPBD terkait masalah data sebaran karhutla di Kaltim berbeda-beda. Foto: Muhammad Budi Kurniawan/detikKalimantan
Samarinda -

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) RI Diaz Hendropriyono menyoroti perbedaan data luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim). Dia mendorong seluruh instansi menggunakan satu data yang terintegrasi agar luas karhutla yang dilaporkan kepada masyarakat tidak berbeda-beda.

Hal itu disampaikan Diaz saat meninjau Posko BPBD Kaltim serta sebelumnya melaksanakan Rakor bersama komite II DPD RI dan seluruh Stakeholder terkait di Kantor Gubernur Kaltim. Peninjauan dilakukan setelah dirinya mengikuti rapat penanganan karhutla di Kantor Gubernur Kaltim.

Diaz mengatakan dalam rapat tersebut ditemukan sejumlah data luasan karhutla yang berbeda dari berbagai instansi. Data dari Kodam mencapai 3.042 hektare, sedangkan Polda Kaltim mencatat 2.223 hektare. Sementara itu, data dari Sipongi mencatat luasan karhutla sekitar 2.715 hektare. Adapun data Pusdalops BPBD Kaltim mencapai 5.761 hektare.

"Di sini kita meninjau posko BPBD Kaltim untuk melihat penyatuan datanya karena tadi waktu kita rapat di Kantor Gubernur ada tiga data yang berbeda," kata Diaz kepada wartawan, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, perbedaan tersebut salah satunya terjadi karena data yang digunakan berasal dari sumber satelit yang berbeda. Dia menyebut terdapat data dari satelit Terra, NOAA-20, dan SNPP.

"Jadi mungkin instansi tertentu mengambil data dari salah satu satelit itu, instansi yang lain mengambil dari satelit yang lain sehingga ada perbedaan data itu," ujarnya.

Diaz mengatakan pihaknya kini membahas cara menyinkronkan data dari berbagai satelit tersebut. Salah satu opsi yang muncul adalah menggunakan satu sumber data yang sama oleh seluruh instansi.

Dia mencontohkan ASEAN yang menggunakan satu satelit untuk memantau kebakaran lahan di kawasan Asia Tenggara.

"ASEAN pun juga dalam tingkat ASEAN dalam memonitor kebakaran lahan ini menggunakan hanya satu satelit saja, yaitu NOAA-20," jelasnya.

Menurut Diaz, pola tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk menciptakan konsistensi data karhutla di Indonesia, khususnya Kaltim.

"Untuk menciptakan sebuah konsistensi data mungkin ada baiknya kita mengikuti apa yang dilakukan ASEAN juga, yaitu hanya menggunakan satu satelit saja," katanya.




(bai/bai)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork