Polda Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menguji penggunaan cairan kimia Hartindo AF31 untuk membantu penanganan kebakaran huutan dan lahan (karhutla). Cairan berbasis kimia tersebut digunakan untuk mempercepat pendinginan sekaligus menghambat api kembali menyala setelah dipadamkan.
Kapolda Kaltim Irjen Endar Priantoro mengatakan uji coba dilakukan bersama TNI Angkatan Udara, Kodam dan BPBD. Cairan tersebut untuk sementara diperuntukkan bagi penanganan kebakaran pada lahan non-gambut.
"Kemarin kami sama-sama dengan dari Lanud, Kodam, dari BPBD, mencoba ada chemical yang mungkin sudah ada di kita. Chemical itu Hartindo AF31. Chemical yang fungsinya adalah untuk membatasi menjalarnya api, tapi ini peruntukannya untuk yang non-gambut," ujar Endar kepada detikKalimantan, Jumat (28/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan kajian awal, Hartindo AF31 dinilai memiliki kemampuan mempercepat proses pendinginan titik api atau cooling effect. Cairan tersebut juga diharapkan dapat menghambat potensi api kembali menyala atau reignition setelah proses pemadaman.
Endar mengatakan Hartindo AF31 merupakan water based fire suppressant. Berdasarkan spesifikasi produsennya, cairan tersebut diklaim dapat digunakan pada berbagai kelas kebakaran, tidak bersifat korosif dan aman bagi lingkungan.
"Karakteristik tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu alternatif pendukung dalam penanganan karhutla yang selama ini menjadi tantangan di Kalimantan Timur," katanya.
Meski demikian, Polda Kaltim belum langsung menggunakan cairan tersebut secara masif. Pengujian masih diperlukan untuk mengetahui efektivitas Hartindo AF31 terhadap karakteristik lahan hingga kondisi cuaca yang berbeda.
"Secara umum, pelaksanaan uji coba berjalan dengan baik dan menunjukkan hasil yang positif. Pada simulasi yang dilakukan, Hartindo AF31 mampu membantu mempercepat proses pemadaman sekaligus memberikan efek pendinginan pada titik api sehingga potensi munculnya api kembali dapat diminimalkan," jelasnya.
Hasil pengujian tersebut selanjutnya akan dievaluasi sebelum Hartindo AF31 digunakan dalam operasi pemadaman skala lebih besar. Evaluasi di antaranya dilakukan terhadap kondisi lahan, tingkat kekeringan vegetasi hingga luas area yang terbakar.
"Meskipun demikian, hasil tersebut masih merupakan uji coba awal. Ke depan akan dilakukan evaluasi teknis secara menyeluruh untuk melihat efektivitasnya pada berbagai karakteristik lahan, kondisi cuaca, tingkat kekeringan vegetasi, serta luasan area yang terbakar," ungkap dia.
Polda Kaltim juga belum menentukan jumlah stok Hartindo AF31 yang akan disiapkan apabila nantinya berhasil digunakan untuk pemadaman karhutla. Penggunaan secara masif masih menunggu hasil evaluasi serta kebutuhan operasi di lapangan.
Apabila dinyatakan efektif, penggunaan cairan tersebut nantinya akan diprioritaskan di daerah dengan tingkat kerawanan karhutla tinggi. Penentuan wilayah akan mengacu pada data hotspot dan kejadian kebakaran di lapangan.
"Penentuan lokasi akan mengacu pada data hotspot, laporan kejadian di lapangan, serta hasil koordinasi bersama BPBD, Manggala Agni, TNI, pemerintah daerah, dan instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat sasaran, dan terpadu," terangnya.
Sementara itu, Endar menyebut berdasarkan pembaruan data posko terdapat 164 hotspot di Kaltim dengan total luas lahan terbakar mencapai 75,6 hektare. Seluruh titik kebakaran yang dilaporkan tersebut disebut telah berhasil dipadamkan hingga Jumat pagi.
"Berdasarkan update posko kami, bahwa hotspot per hari ini jumlah ada 164 hotspot titik api. Luasan terbakar total ada 75,6 hektare. Alhamdulillah sampai dengan tadi pagi laporan semua titik api itu sudah padam," pungkas Endar.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
