Krisis Air Bersih, Ribuan WBP Lapas-Rutan Samarinda Diminta Berhemat

Krisis Air Bersih, Ribuan WBP Lapas-Rutan Samarinda Diminta Berhemat

Muhammad Budi Kurniawan - detikKalimantan
Kamis, 10 Sep 2026 19:30 WIB
Lapas Kelas II A Samarinda.
Foto: Muhammad Budi Kurniawan/detikKalimantan
Samarinda -

Krisis air bersih akibat kemarau panjang turut berdampak pada lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan) di Samarinda, Kalimantan Timur. Ribuan warga binaan pemasyarakatan (WBP) diminta menghemat penggunaan air.

Kondisi tersebut terjadi setelah distribusi air dari Perumda Tirta Kencana Samarinda atau PDAM mengalami gangguan. Perumda Tirta Kencana menyebut kadar klorida Sungai Mahakam yang menjadi sumber air baku berada dalam kondisi kritis sehingga sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) mengurangi jam operasional.

Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda Yohanis Varianto mengatakan distribusi air ke lapas sempat tersendat selama dua hari. Pihak lapas kemudian mengandalkan sejumlah bak penampungan yang tersedia di setiap blok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah 2 hari memang air juga tersendat. Namun kami di Lapas punya banyak bak penampungan. Setiap blok ada bak penampungan sehingga ketika air mengalir kami langsung menampung untuk kebutuhan air warga binaan," kata Yohanis kepada detikKalimantan, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pihak lapas meminta warga binaan mengurangi penggunaan air. Terlebih, jumlah penghuni Lapas Kelas IIA Samarinda saat ini mencapai 787 orang, jauh melebihi kapasitas ideal yang hanya sekitar 215 orang.

"Memang kebutuhan air bersih itu sangat penting sekali di sini setiap harinya," ujarnya.

Pihak lapas juga telah berkoordinasi dengan Perumda Tirta Kencana untuk mendapatkan pasokan air bersih tambahan. Beruntungnya permintaan tersebut langsung mendapat respons.

"Hari ini setelah kami melayangkan surat, respons PDAM langsung mengirimkan satu tangki air untuk sementara, dengan berapa kubik air sehingga untuk kebutuhan mendesak warga binaan masih bisa terpenuhi," jelasnya.

Yohanis mengatakan kebutuhan air untuk ratusan warga binaan cukup besar, terutama untuk mandi, mencuci pakaian dan kebutuhan sanitasi.
Untuk mengantisipasi kekurangan air, setiap blok di Lapas Samarinda telah dilengkapi bak penampungan dan tandon. Namun, kapasitas yang tersedia tetap terbatas ketika pasokan air dari PDAM tersendat.

"Dengan musim krisis air seperti saat ini di Samarinda, kami mengimbau kepada warga binaan supaya berhemat air sementara waktu," katanya.

Dia menyebut warga binaan juga diminta memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan yang paling mendesak dan mendasar, agar seluruh WBP kenagian memenuhi kebutuhan air setiap hari.

"Jadi kalau untuk mandi yang biasanya menggunakan banyak air dapat dibatasi supaya wbp yang lain kebagian air bersih," ungkapnya.

Rutan Samarinda Batasi Penggunaan Air

Kondisi serupa terjadi di Rutan Kelas I Samarinda. Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas I Samarinda Praditya Panji mengatakan pihaknya menerapkan pembatasan penggunaan air bagi warga binaan. Pembatasan dilakukan berdasarkan blok. Penggunaan air yang sebelumnya tidak dibatasi kini diatur dengan jadwal.

"Di warga binaan ini kita melakukan pembatasan penggunaan air khususnya pada jam penggunaan. Misalkan di dalam blok A, B, C itu kita bagi per 2 jam sekali dalam penggunaan air," kata Panji.

Untuk memenuhi kebutuhan air, Rutan Samarinda memanfaatkan air dari sumur bor yang kemudian diolah menggunakan sistem water treatment plant (WTP).

"Untuk airnya sendiri atau debit airnya sendiri kita menggunakan air bor atau air sumur yang kita saring kembali di belakang blok A dan blok B. Kita menggunakan sistem WTP," jelasnya.

Menurut Panji, pasokan air dari PDAM biasanya masih mengalir pada malam hari. Sementara pada siang hari, rutan mengandalkan air sumur bor.

"Untuk saat ini kita menggunakan air bor untuk siang, tapi untuk malam itu biasanya air PDAM mengalir," ujarnya.

Jumlah penghuni Rutan Kelas I Samarinda saat ini mencapai 1.211 orang. Meski memiliki cadangan air, kebutuhan harian tetap cukup besar. Panji mengatakan satu bak penampungan air yang digunakan rutan dapat habis dalam sehari dan harus kembali diisi.

"Kalau hitungan pastinya kita kurang bisa memastikan, tapi yang jelas dalam satu tandon atau penampungan bak di atas itu dalam satu hari pasti habis dan tiap hari kita melakukan isi ulang," katanya.

Rutan Samarinda memiliki bak semen berukuran sekitar 3 x 3 meter di belakang blok A dan B. Selain itu, terdapat lima bak yang digunakan dalam proses penyaringan air melalui sistem WTP. Namun dalam musim krisis air seperti saat ini air dalam bak tersebut tidak bertahan lama.

"Kami juga sudah menghimbau kepada seluruh warga binaan untuk sementara waktu menghemat air bersih di saat krisis air seperti ini," sebutannya.

Jika persediaan air sumur bor tidak mencukupi, pihak rutan menyiapkan opsi mendatangkan air menggunakan mobil tangki dimana air tersebut diambil dari danau yang masih memiliki air bersih.

"Kita ada mobil sendiri, jadi kalau sumur bor tidak vuku kami biasanya mengambil air yang ada di danau belakang Lapas Narkotika Samarinda," ungkap Panji.

Perumda Kurangi Operasional 10 IPA

Sementara itu, Perumda Tirta Kencana Samarinda menyatakan kadar klorida Sungai Mahakam yang menjadi sumber air baku bergerak dari kondisi siaga ke kritis. Kondisi tersebut berdampak pada operasional sejumlah IPA di Samarinda.

Sebanyak 10 IPA mengalami pengurangan jam operasional, yakni IPA Bantias, Palaran, Pulau Atas, Kalhol, Sungai Kapih, Selili, Samarinda Seberang, Tirta Kencana, Cendana dan Gunung Lipan.

Perumda Tirta Kencana juga menyiapkan sejumlah terminal air untuk membantu masyarakat memperoleh air bersih. Warga yang pasokan airnya masih mengalir diimbau menampung air terlebih dahulu dan menghemat penggunaannya. Operasional IPA akan kembali normal apabila kadar klorida Sungai Mahakam telah kembali sesuai standar.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Krisis Air Bersih di Kadujajar, 2 Km Ditempuh Demi Setetes Air Bersih"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads