Mengenal Operasi Modifikasi Cuaca, Sejarah hingga Cara Kerjanya

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 08:30 WIB
Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN
Balikpapan -

Puncak musim kemarau dengan fenomena El Nino saat ini berdampak serius hingga menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Salah satu penanganan yang dilakukan ialah melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) atau juga dikenal teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Operasi yang diandalkan sebagai penyelamat darurat ekologi ini tidak sesederhana menebar garam dari udara. Untuk mengenal apa itu modifikasi cuaca, simak penjelasan berikut ini, lengkap dengan sejarah dan cara kerjanya.

Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca?

Dikutip dari situs BPBD Pontianak, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah suatu bentuk usaha campur tangan manusia dalam mengendalikan sumber daya air di atmosfer. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan berbagai parameter cuaca dengan tujuan utama menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu.

Pada akhirnya, modifikasi cuaca ini diaplikasikan untuk meminimalkan risiko bencana alam yang diakibatkan oleh faktor iklim maupun cuaca. Misalnya pada musim kemarau seperti ini, maka diharapkan TMC dapat menurunkan hujan, sehingga bermanfaat bagi pertanian hingga pemadaman karhutla.

Sejarah TMC di Indonesia

Secara global, modifikasi cuaca modern berawal di Amerika Serikat pada tahun 1946 ketika para ilmuwan bereksperimen menggunakan es kering (dry ice) ke dalam awan. Di Indonesia, masuknya teknologi ini diinisiasi pada tahun 1977.

Berdasarkan laman BRIN, hal tersebut bermula ketika Presiden Soeharto melihat kemajuan sektor pertanian di Thailand, yang suplai airnya ternyata didukung oleh modifikasi cuaca. Beliau kemudian menugaskan BJ Habibie untuk mempelajari teknologi ini, yang berujung pada dimulainya proyek percobaan hujan buatan di Indonesia.

Awalnya TMC ditujukan murni untuk sektor pertanian, yakni untuk mengisi waduk-waduk strategis yang digunakan untuk irigasi dan pembangkit listrik. Namun, seiring meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi selama satu dekade terakhir, fungsi TMC berkembang semakin luas.

Teknologi ini kini diandalkan untuk memitigasi bencana seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta banjir, hingga ditugaskan untuk mengamankan infrastruktur dan kelancaran acara berskala kenegaraan.




(bai/bai)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork