Beredar informasi di media sosial yang mengeklaim bahwa air hujan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak layak digunakan karena terkontaminasi bahan pembenihan awan. Informasi tersebut adalah hoaks yang berpotensi memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Lantas seperti apa informasi yang benar? Simak penjelasannya dalam artikel ini, mulai dari cara kerja OMC hingga cara agar air hujan hasil OMC layak dimanfaatkan.
Apa Itu Operasi Modifikasi Cuaca?
Mengutip situs BPBD Pontianak, OMC merupakan usaha campur tangan manusia dalam mengendalikan sumber daya air di atmosfer. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan berbagai parameter cuaca dengan tujuan utama menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi modifikasi cuaca secara umum dilakukan melalui metode penyemaian awan atau cloud seeding. Metode ini dilakukan dengan menaburkan bahan seperti garam (NaCl) di atas awan target guna mempercepat proses kondensasi.
Melalui cara ini, awan penghujan bisa didorong agar menghasilkan hujan lebih cepat sebelum sampai ke daerah rawan banjir, atau difokuskan pada titik wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebaliknya, ada juga metode cloud breaking yang dirancang untuk mengikis jumlah uap air dan menghambat kondensasi sehingga mampu mengurangi curah hujan.
OMC Tidak Menggunakan Bahan Berbahaya
Dalam siaran pers BMKG, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam OMC telah melalui berbagai kajian ilmiah dan terbukti tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
Bahan semai yang umum digunakan dalam OMC adalah natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), dan kapur tohor. NaCl berfungsi membantu pembentukan dan pertumbuhan butir air di dalam awan. Secara prinsip, ini adalah bahan yang sama dengan garam dapur, hanya berbeda pada tingkat kemurnian dan ukuran partikelnya.
Keamanan dan efektivitas bahan-bahan tersebut telah teruji dalam berbagai operasi di Indonesia, mulai dari penanggulangan bencana hidrometeorologi, pencegahan karhutla, hingga peningkatan cadangan air bendungan. Berdasarkan hasil evaluasi, penggunaan bahan semai tersebut sama sekali tidak terbukti menurunkan kualitas air hujan.
Air Hujan OMC Tetap Harus Diolah
Meskipun bahan OMC dipastikan aman, masyarakat harus paham bahwa kualitas air hujan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan setempat. Saat terjadi karhutla, udara di atmosfer akan dipenuhi oleh polutan sisa pembakaran, seperti partikel debu, asap, jelaga, dan partikulat halus lainnya.
Polutan-polutan udara inilah yang akan terbawa turun oleh tetesan hujan, terutama pada hujan pertama yang turun setelah periode udara tercemar. Jadi, penurunan kualitas air hujan lebih disebabkan oleh polusi lingkungan di atmosfer, bukan karena sisa bahan OMC.
Oleh karena itu, jika masyarakat ingin memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga, sangat disarankan untuk melakukan dua langkah pengolahan awal berikut:
- Endapkan air hujan selama beberapa waktu agar kotoran turun ke dasar wadah.
- Saring air tersebut untuk memisahkan partikel atau sisa jelaga yang mungkin masih terbawa.
Baca juga: Hujan Mulai Guyur Beberapa Daerah Kalimantan |
Nah, bisa disimpulkan bahwa OMC tidak mengandung bahan berbahaya, namun polutan dari kebakaranlah yang mencemari air hujan saat turun. Air hujan tetap bisa dimanfaatkan dengan diolah terlebih dahulu. Semoga bermanfaat.
