Bisakah Tepung Ubi untuk Memadamkan Api? Ini Sederet Penelitiannya

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Rabu, 26 Agu 2026 15:40 WIB
Ilustrasi singkong. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Balikpapan -

Wacana pemanfaatan tepung atau bubuk ubi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendapatkan sorotan publik. Hal ini muncul agenda rapat Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan karhutla yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Benarkah tepung ubi ini bisa dimanfaatkan untuk memadamkan api? Jauh sebelum isu ini dibahas, kalangan akademisi sebenarnya telah melakukan pengujian terhadap kulit singkong secara empiris.

Berikut beberapa penelitian yang pernah dilakukan yang membedah efektivitas inovasi pemadam api dari kulit singkong.

1. Inovasi SIPAR (Singkong APAR)

Salah satunya dalam penelitian berjudul "Inovasi Pemadam Api dari Kulit Singkong untuk Menunjang Keamanan Proses Produksi di UMKM Lumpia Jeng Nenny" yang digagas oleh Vereline Abigael Widayat beserta tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Malang.

Program yang diuji cobakan secara langsung pada 21 September 2024 di Dusun Krajan, Sukorejo, Pasuruan ini dihadirkan untuk menjawab keresahan mitra UMKM terkait potensi bahaya kebakaran dari penggunaan kompor dan minyak panas secara terus-menerus.

Inovasi yang diberi nama SIPAR (Singkong APAR) ini diproses melalui tahapan persiapan yang cukup sederhana:

  • Pengupasan dan pengeringan: Limbah kulit singkong dikupas dan dijemur di bawah terik matahari menggunakan alas terpal.
  • Penggilingan: Kulit singkong yang sudah benar-benar kering kemudian digiling menggunakan mesin hingga menjadi bubuk halus.
  • Pengisian tekanan: Bubuk dimasukkan ke dalam tabung APAR dan disuntikkan gas Hidrogen dengan tekanan mencapai 10-15 bar.

Dalam tahap pengujiannya, SIPAR didemonstrasikan langsung untuk menyemprot dan mematikan sumber api di area produksi. Dari hasil evaluasi di lapangan, ditarik kesimpulan bahwa alat ini terbukti sangat efektif dan ramah lingkungan karena mampu memadamkan api skala kecil dalam hitungan detik tanpa membebani biaya pengadaan alat bagi UMKM, meskipun efektivitasnya pada kebakaran berskala besar masih menuntut evaluasi lanjutan.

2. Limbah Kulit Singkong Sebagai Komplementer APAR

Sebuah studi eksperimental lainnya bertajuk "Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong Sebagai Komplementer Dry Chemical Powder APAR" dikerjakan oleh Rais Abdillah Elvandi dari Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB University).

Penelitian yang dilangsungkan pada rentang bulan Juli hingga Agustus 2024 di Kampus Gunung Gede, Bogor ini berfokus pada pemanfaatan limbah pertanian guna menekan tingkat ketergantungan pada bahan kimia sintetis pemadam api.

Proses pengolahannya meliputi tahapan pencucian kulit singkong, pengeringan di dalam mesin oven bersuhu 150°C, dan penggilingan hingga menjadi partikel bubuk. Untuk tahap pengujian, bubuk organik tersebut diisikan ke dalam tabung berkapasitas 3 kg, diberi tekanan nitrogen, lalu disemprotkan pada api yang membakar media kertas di dalam sebuah tong. Uji coba performa ini menghasilkan perbandingan data berikut:

  • Serbuk singkong murni (3 kg): Gagal menaklukkan titik api meski telah disemprotkan secara maraton selama durasi 95 detik.
  • Serbuk kimia murni (3 kg): Sangat efektif memadamkan api dalam waktu 18 detik saja.
  • Rasio campuran 1:1: Mencampurkan masing-masing 1,5 kg bahan ternyata masih gagal memadamkan api setelah 54 detik penyemprotan.
  • Rasio campuran 2:1: Formulasi dua bagian bubuk singkong (2 kg) dan satu bagian kimia kering (1 kg) menjadi racikan paling ampuh.

Berdasarkan serangkaian pengujian tersebut, ditarik kesimpulan bahwa rasio kombinasi 2:1 adalah formulasi terbaik yang sukses mematikan nyala api dalam 15 detik pada area seluas 0,1272 m³. Kombinasi ini memberikan keseimbangan antara efektivitas pemadaman dengan pemanfaatan material yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.




(bai/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork