Pulau Kalimantan tengah dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup parah beberapa waktu ini. Dampak kabut asap melanda hingga negeri tetangga.
Bencana karhutla tahun ini bukanlah kejadian pertama. Jauh menengok ke belakang, karhutla pernah menimpa Kalimantan dengan skala yang cukup parah.
Pulau terbesar kedua di Indonesia ini kerap mengalami kebakaran besar hampir setiap tahunnya. Bahkan, Kalimantan pernah mengalami salah satu bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia, yakni kebakaran hutan tahun 1997-1998.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut catatan beberapa kejadian dari tahun 1997, 2015, dan 2019 dirangkum oleh tim detikKalimantan:
1. Karhutla Kalimantan Tahun 1997
Dampak El Nino di Indonesia tahun 1997. Terlihat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kekeringan fatal. (dok BMKG) |
Karhutla di periode tahun 1997-1998 menjadi salah satu bencana kebakaran hutan terbesar dalam dua abad terakhir. Peristiwa tersebut menghanguskan jutaan hektare hutan alami dan juga menyebabkan kabut asap yang berdampak lintas negara.
Dari peristiwa ini, aktivitas ekonomi, transportasi, dan tentu kesehatan masyarakat di Indonesia serta negara tetangga Malaysia, Singapura, dan Brunei juga ikut terganggu. Peristiwa tersebut disebut menjadi salah satu bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20.
Musim kemarau panjang akibat El Niño 1997-1998 disebut jadi salah satu pemicu utama kebakaran besar di Indonesia kala itu. Menurut beberapa catatan, saat itu curah hujan turun drastis selama berbulan-bulan sehingga vegetasi dan lahan gambut mengering.
Namun ternyata para peneliti mengungkap bahwa kekeringan bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Menurut laporan Center for International Forestry Research (CIFOR), sebagian besar titik api justru berasal dari aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran untuk perkebunan dan pertanian.
Ketika api mulai membesar, kondisi angin yang kencang membuat kobaran cepat menyebar hingga masuk ke kawasan hutan primer, hutan produksi, dan lahan gambut. Diperkirakan seluas 5 juta hektare kawasan di Kalimantan terbakar.
Pulau ini menjadi daerah dengan peristiwa kebakaran hutan terluas saat itu, terutama di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Asap pekat akibat kebakaran menyelimuti hampir seluruh Kalimantan selama berbulan-bulan, bahkan menyebar hingga Sumatra, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, dan Filipina.
2. Karhutla Kalimantan Tahun 2015
Presiden Jokowi saat di lokasi kebakaran hutan dan lahan tahun 2015. Foto: Setpres |
Kebakaran hutan terjadi di berbagai titik di Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hebat itu mengakibatkan asap yang sampai ke rumah warga bahkan hingga ke Singapura dan Malaysia. Termasuk juga di Kalimantan Tengah.
Dikutip dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran tahun 2015 menjadi salah satu yang terparah dengan luas area terbakar mencapai sekitar 2,6 juta hektare, menyebabkan puluhan korban jiwa dan ratusan ribu kasus gangguan pernapasan.
Kerugian ekonomi akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Selain itu, kabut asap mengganggu aktivitas transportasi, pendidikan, dan ekonomi, serta memicu ketegangan diplomatik di kawasan.
Kabut asap di Palangkaraya Sabtu (26/9/2015) Foto: Wulan/pembaca detikcom |
Berbagai kajian menunjukkan bahwa sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi metode yang banyak digunakan karena dianggap murah dan cepat, baik oleh perusahaan maupun petani kecil. Api pada lahan gambut bahkan dapat membara di bawah permukaan tanah dalam waktu lama dan sulit dipadamkan.
Dalam catatan liputan detikcom, tahun 2015 menjadi bencana yang mengerikan bagi warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kabut asap dampak karhutla tak kunjung hilang, bahkan warga menyebut sudah sepanjang bulan Agustus hingga September, mereka tak melihat matahari.
Aktivitas dan kesehatan warga setempat pun terganggu. Suplai makanan juga berkurang karena distribusi terhambat kabut asap.
Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera semakin meluas. Bahkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB kala itu, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut kabut asap sudah sampai di langit Jakarta.
3. Karhutla Kalimantan Tahun 2019
Kendaraan melintas di Jalan Trans Kalimantan yang diselimuti asap di daerah Panarung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (17/9/2019). Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menyebabkan kualitas udara di kota itu berbahaya untuk kesehatan warga. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ama. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ama. |
Salah satu peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terparah di Kalimantan adalah yang terjadi pada 2019 di Kalimantan Barat (Kalbar). Saat itu, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 151 ribu hektare, dan 159 perusahaan perkebunan sawit dan pemegang izin terkait mendapatkan sanksi administratif dari Pemprov.
Tak hanya Kalimantan Barat, karhutla juga menyebar ke Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel) dan menimpa pulau lainnya yakni Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Ratusan ribu hektar lahan terbakar dalam kejadian tujuh tahun lalu.
Kebakaran hutan dan lahan 2019 Foto: Denny Putra |
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB saat itu, Agus Wibowo, menyebut luas karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 ha dengan rincian lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Luas lahan yang terbakar tahun ini disebut lebih besar dibanding 3 tahun sebelumnya.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia di tahun itu bahkan juga menjadi perhatian dunia. NASA merekam dengan satelit, dipajang di situs resmi NASA Earth Observatory. Tampak Pulau Kalimantan yang berselimut asap putih.
NASA juga menampilkan foto dari Operational Land Imager (OLI) pada satelit Landsat 8. Semakin terlihat kebakaran hutan di kawasan perkebunan kelapa sawit. Amatan gelombang pendek infra merah diterapkan untuk memperlihatkan titik api.
Selain itu, ada peta data karbon pada 17 September 2019 dari permodelan GEOS Forward Processing (GEOS-FP). Model ini menggabungkan data satelit, pesawat dan sistem observasi di darat untuk mengamati aerosol dan api. GEOS-FP juga memakai data meteorologi seperti suhu udara, kelembabab, angin.
Semuanya dihitung secara matematis, hasilnya tampak api yang begitu parah di tengah Kalimantan. Asapnya terbawa angin sampai ke arah Natuna. Selain itu tampak juga kebakaran hutan di Provinsi Riau di Sumatera, yang asapnya sampai ke Singapura.
Simak Video "Video: Blak-blakan Komisi IV DPR Soal Luasan Lahan Terbakar di 2026"
[Gambas:Video 20detik] (aau/bai)
Koleksi Pilihan
Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan





