BNN Bongkar Modus Baru Bandar Narkoba

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Jumat, 21 Agu 2026 05:11 WIB
Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto saat menghadiri Deklarasi Akbar Perang Melawan Narkoba bersama Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) di Palangka Raya, Kamis (20/8/2026)Foto: Istimewa
Palangka Raya -

Peredaran narkotika terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi. Badan Narkotika Nasional (BNN) mewaspadai modus baru sindikat yang menyasar pengguna rokok elektrik atau vape dengan menawarkan narkotika dalam bentuk cair.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto saat menghadiri Deklarasi Akbar Perang Melawan Narkoba bersama Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) di Bundaran Besar Talawang, Palangka Raya, Kamis (20/8/2026).

Suyudi mengungkapkan, masyarakat selama ini lebih familiar dengan narkotika berbentuk serbuk, pil maupun tanaman. Namun, perkembangan modus kejahatan membuat zat terlarang kini dapat ditemukan dalam bentuk cair dan digunakan melalui perangkat vape.

"Dulu kita mengenal narkotika jenis serbuk, pil, atau tanaman. Tapi sekarang narkotika juga berwujud cair. Bandar semakin lihai, strategi marketing mereka semakin pintar," tegas Suyudi.

Menurutnya, jaringan peredaran narkotika juga tidak lagi bergantung pada pola transaksi secara langsung. Sindikat memanfaatkan perkembangan teknologi dan sistem distribusi modern untuk memperluas pasar.

"Mulai dari rokok elektrik, pasar gelap internet atau dark web, hingga jalur logistik dan kargo kini menjadi bagian dari pola yang perlu diwaspadai," kata dia.

Kondisi tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan karena kelompok usia muda, khususnya 15 hingga 24 tahun, menjadi salah satu kelompok yang rentan terpapar penyalahgunaan narkotika. "Secara nasional, prevalensi penyalahgunaan narkotika disebut mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta jiwa," ujarnya.

Suyudi menegaskan, perubahan pola peredaran narkotika harus diimbangi dengan strategi pemberantasan yang juga semakin adaptif. BNN mengedepankan tiga pendekatan, yakni hard power, soft power, dan smart power.

Hard power diarahkan pada penindakan terhadap jaringan dan bandar narkotika. Sementara soft power dilakukan melalui edukasi dan rehabilitasi. Adapun smart power mengandalkan pemanfaatan teknologi untuk mendeteksi serta mengungkap kejahatan narkotika.

"Ketiga pendekatan ini harus berjalan bersama untuk menghadapi ancaman narkotika yang terus berkembang," ujarnya.

Selain penindakan, BNN juga memperkuat pencegahan dari lingkungan paling dasar melalui program Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak).

Program tersebut diarahkan untuk membangun ketahanan generasi muda sejak dini dengan melibatkan keluarga, lingkungan desa hingga pemerintah kabupaten dan kota.

Suyudi menekankan, perang terhadap narkotika bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Perubahan modus yang semakin beragam membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, sinergi pemerintah, aparat, keluarga dan masyarakat menjadi kunci untuk mempersempit ruang gerak sindikat, terutama ketika narkotika mulai menyasar ruang-ruang baru melalui teknologi dan perangkat yang dekat dengan kehidupan anak muda.

"Perang melawan narkoba membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Jangan sampai perubahan modus peredaran membuat masyarakat lengah," terangnya.



Simak Video "Bangun Generasi Tangguh, BNN Gelar Kuliah Umum di Universitas Majalengka"


(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork