Kasus Dengue di Kotim Tembus 139 hingga Juni 2026, Paling Banyak DBD

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Senin, 06 Jul 2026 11:22 WIB
Ilustrasi nyamuk demam berdarah/Foto: thinkstock
Kotawaringin Timur -

Ancaman penyakit demam berdarah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi perhatian serius. Hingga akhir Juni 2026, Dinkes Kotim mencatat ada 139 kasus dengue, dengan mayoritas Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dari jumlah tersebut, lima pasien mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) atau syok dengue, kondisi paling berat akibat infeksi virus dengue. Data Dinkes Kotim tersebut terdiri dari 41 kasus Demam Dengue (DD), 93 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), dan lima kasus Dengue Shock Syndrome (DSS).

Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat sejak Maret dan mencapai puncaknya pada Mei.

"Secara keseluruhan hingga akhir Juni terdapat 139 kasus, terdiri dari 41 kasus Demam Dengue (DD), 93 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), dan lima kasus Dengue Shock Syndrome (DSS)," ujar Nugroho, Senin (6/7/2026).

Rincian kasus memperlihatkan pada Januari ada 24 kasus, kemudian turun menjadi sembilan kasus pada Februari. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama. Kasus kembali naik menjadi 18 pada Maret, naik menjadi 19 kasus pada April, lalu melonjak tajam menjadi 40 kasus pada Mei.

"Meski pada Juni jumlah kasus turun menjadi 29, angka tersebut masih tergolong tinggi. Dari total kasus pada Juni, dua merupakan Demam Dengue, 25 Demam Berdarah Dengue, dan dua Dengue Shock Syndrome," ujarnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotim menerbitkan Instruksi Bupati Kotim Nomor 100.3.4.2/735/DINKES/2026 tentang Pelaksanaan Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.

"Melalui kebijakan itu, seluruh organisasi perangkat daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah kecamatan, desa, hingga kelurahan diminta menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan PSN 3M Plus secara rutin setiap minggu," katanya.

Gerakan 3M Plus meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Masyarakat juga dianjurkan melakukan langkah pencegahan tambahan seperti menggunakan larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa pada ventilasi, memakai kelambu, hingga menggunakan obat antinyamuk.

"Pencegahan DBD tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran aktif masyarakat dalam rutin melakukan PSN 3M Plus menjadi kunci utama untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti," ujarnya.

Selain mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk, Pemkab Kotim juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Tim Penggerak PKK, kader kesehatan, tokoh masyarakat, satuan pendidikan, hingga media massa diharapkan ikut memperkuat edukasi kepada masyarakat agar upaya pencegahan dilakukan secara berkelanjutan.

Dinkes Kotim juga menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan untuk terus memantau perkembangan kasus di wilayah masing-masing. Jika ditemukan indikasi peningkatan yang mengarah pada KLB, laporan diminta segera disampaikan secara berjenjang kepada Bupati melalui Dinas Kesehatan agar langkah penanganan dapat dilakukan secara cepat dan penyebaran penyakit dapat ditekan.



Simak Video "Video Pramono soal Wabah Super Flu: Belum Ada dan Semoga Nggak Kena"

(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork