Puluhan orang tua calon siswa SMP di Kota Samarinda memprotes hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027. Mereka meminta dugaan kecurangan dalam proses penerimaan diusut secara menyeluruh.
Pengaduan itu akan disampaikan ke DPRD Kota Samarinda dan Dinas Pendidikan. Para orang tua juga meminta pemerintah membuka data penerimaan secara transparan agar proses seleksi bisa diuji publik.
"Ada yang radiusnya 400 meter, 500 meter, 600 meter sampai satu kilometer, tapi tetap tidak diterima. Bahkan ada yang diarahkan ke sekolah lain yang lebih jauh, sampai berbeda kecamatan," kata inisiator pengaduan, Okti Christina, Rabu (1/7/2026).
Okti mengatakan awalnya hanya mendengar keluhan dari sejumlah orang tua. Namun setelah membuka ruang pengaduan, ia mendapati kasus serupa dialami banyak keluarga.
"Kami jadi mempertanyakan akurasi titik koordinat yang dipakai sistem. Bahkan beredar cerita ada yang bayar Rp5 juta sampai Rp10 juta hanya untuk mengubah koordinat. Tapi itu masih sebatas cerita masyarakat, belum ada bukti yang bisa kami tunjukkan," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Nur Ningsih. Warga Kecamatan Palaran itu mengaku anaknya ditolak di seluruh SMP negeri yang ada di kecamatannya, hingga akhirnya anaknya masuk di sekolah yang berjarak 7 kilometer.
"Di Palaran ada tiga sekolah. Itu ditolak semua. Terus ditolak lagi di dua sekolah lain, akhirnya diterima di SMP Negeri 36. Kan jauh sekali. Anak saya yatim, tidak punya kendaraan juga," katanya.
(des/des)