Menjadi petugas sensus ekonomi ternyata tidak sesederhana mendatangi rumah warga dan mengajukan sejumlah pertanyaan. Berbagai tantangan harus dihadapi di lapangan, mulai dari warga yang enggan membuka pintu, dikejar hewan peliharaan, hingga menghadapi situasi yang mengarah pada pelecehan seksual.
Pengalaman itu diceritakan Dara Elvinda, petugas sensus ekonomi yang hampir dua pekan terakhir melakukan pendataan di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Salah satu kendala yang cukup sering ditemui adalah keberadaan anjing peliharaan warga.
"Kalau ada rumah yang anjingnya tidak diikat itu agak susah sebenarnya kalau mau datang ke rumahnya. Untungnya kadang pemilik rumah baik, jadi anjingnya dimasukkan dulu," kata Dara, Rabu (24/6/2026).
Tak hanya itu, ia juga masih menemukan warga yang menolak atau enggan menerima kedatangan petugas sensus. Bahkan, ada yang memilih tidak membuka pintu saat didatangi.
Menurut Dara, meningkatnya sikap skeptis masyarakat menjadi salah satu penyebab. Petugas pun harus memberikan penjelasan secara rinci mengenai tujuan pendataan yang dilakukan.
"Sekarang orang lebih skeptis. Ada juga yang tidak setuju atau tidak mau didata. Jadi petugas harus bisa menjelaskan tujuan pendataan dengan benar," ujarnya.
Ia menuturkan, sebagian besar penolakan berangkat dari kekhawatiran masyarakat bahwa data yang diberikan akan digunakan untuk kepentingan perpajakan.
"Banyak yang takut karena mengira sensus ini berhubungan dengan pajak. Menurut pengakuan mereka, beberapa kali setelah sensus pajaknya naik," katanya.
(bai/bai)