Cerita Petugas Sensus Ekonomi di Kubu Raya Hadapi Anjing-Pelecehan

Kalimantan Barat

Cerita Petugas Sensus Ekonomi di Kubu Raya Hadapi Anjing-Pelecehan

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 25 Jun 2026 08:01 WIB
Dara Elvinda, petugas sensus ekonomi wilayah Kabupaten Kubu Raya. (dok Istimewa)
Foto: Dara Elvinda, petugas sensus ekonomi wilayah Kabupaten Kubu Raya. (dok Istimewa)
Kubu Raya -

Menjadi petugas sensus ekonomi ternyata tidak sesederhana mendatangi rumah warga dan mengajukan sejumlah pertanyaan. Berbagai tantangan harus dihadapi di lapangan, mulai dari warga yang enggan membuka pintu, dikejar hewan peliharaan, hingga menghadapi situasi yang mengarah pada pelecehan seksual.

Pengalaman itu diceritakan Dara Elvinda, petugas sensus ekonomi yang hampir dua pekan terakhir melakukan pendataan di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Salah satu kendala yang cukup sering ditemui adalah keberadaan anjing peliharaan warga.

"Kalau ada rumah yang anjingnya tidak diikat itu agak susah sebenarnya kalau mau datang ke rumahnya. Untungnya kadang pemilik rumah baik, jadi anjingnya dimasukkan dulu," kata Dara, Rabu (24/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, ia juga masih menemukan warga yang menolak atau enggan menerima kedatangan petugas sensus. Bahkan, ada yang memilih tidak membuka pintu saat didatangi.

Menurut Dara, meningkatnya sikap skeptis masyarakat menjadi salah satu penyebab. Petugas pun harus memberikan penjelasan secara rinci mengenai tujuan pendataan yang dilakukan.

"Sekarang orang lebih skeptis. Ada juga yang tidak setuju atau tidak mau didata. Jadi petugas harus bisa menjelaskan tujuan pendataan dengan benar," ujarnya.

Ia menuturkan, sebagian besar penolakan berangkat dari kekhawatiran masyarakat bahwa data yang diberikan akan digunakan untuk kepentingan perpajakan.

"Banyak yang takut karena mengira sensus ini berhubungan dengan pajak. Menurut pengakuan mereka, beberapa kali setelah sensus pajaknya naik," katanya.

Padahal, menurut Dara, sensus ekonomi tidak berkaitan dengan penetapan maupun kenaikan pajak. Kerahasiaan data responden juga dijamin oleh aturan yang berlaku.

"Sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Bahkan di aplikasi kami juga ada keterangan bahwa pendataan ini tidak terkait pajak. Ada dasar hukumnya juga, sehingga kerahasiaan responden terjamin," jelasnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Dara mengungkapkan adanya risiko yang lebih serius. Ia menyebut salah seorang rekannya pernah mengalami peristiwa yang diduga mengarah pada pelecehan seksual saat melakukan pendataan.

Peristiwa itu terjadi ketika petugas mendatangi rumah seorang responden. Saat wawancara berlangsung, responden diduga menunjukkan perilaku tidak senonoh kepada petugas perempuan yang bertugas. Beruntung, saat itu petugas tidak bekerja seorang diri sehingga situasi dapat segera diantisipasi.

"Untung mereka datang berdua, jadi masih bisa ditangani," ungkapnya.

Kejadian tersebut membuat para petugas lebih berhati-hati saat melakukan kunjungan. Dalam kondisi tertentu, wawancara dilakukan dari depan pagar rumah demi menjaga keamanan.

Tantangan lainnya adalah menyesuaikan waktu dengan aktivitas responden. Banyak warga yang bekerja di Kota Pontianak sehingga sulit ditemui pada jam kerja.

"Kami kadang harus datang malam atau pagi-pagi sekali sebelum mereka berangkat kerja," ujar Dara.

Dalam sehari, petugas sensus rata-rata dapat mendata tujuh hingga sepuluh responden. Jumlah itu bergantung pada kondisi lapangan dan jenis usaha yang dimiliki responden.

"Kalau dari pagi sampai sore non-stop bisa 10 responden atau lebih. Tapi kalau ada jeda dan turun lagi sore, biasanya sekitar tujuh sampai delapan," katanya.

Menurut Dara, pendataan terhadap pelaku usaha umumnya memerlukan waktu lebih lama karena jumlah pertanyaan yang diajukan lebih banyak dibandingkan responden biasa.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Dara mengaku tetap menikmati pekerjaannya. Ia memilih menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu pribadi agar kondisi fisik dan mental tetap terjaga.

"Kalau saya selesai turun lapangan ya pulang, main atau nongkrong. Enjoy saja," tuturnya.

Dara berharap masyarakat dapat lebih terbuka terhadap petugas sensus. Sebab, data yang dikumpulkan menjadi salah satu dasar penting bagi pemerintah dalam memetakan kondisi ekonomi masyarakat dan menyusun kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.

Halaman 3 dari 3
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads