Cerita Perajin Rotan Bawa Harum Nama Krayan Sampai Negeri Paman Sam

Cerita Perajin Rotan Bawa Harum Nama Krayan Sampai Negeri Paman Sam

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 13 Feb 2026 17:59 WIB
Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Foto: Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Nunukan -

Dari tangan hebat Milkias, warga Desa Wa' Laya, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menghasilkan kerajinan tangan yang indah hingga memukau mancanegara. Ia bersama Kelompok UMKM Ebpa' Ra mampu memasarkan kerajinan rotan hingga ke Amerika Serikat.

Milkias selaku Ketua UMKM Ebpa' Ra, menceritakan telah menekuni dunia kerajinan rotan selama lebih dari 20 tahun. Ia bangga karyanya kerap menjadi langganan turis dan pejabat.

"Malah dari Amerika pernah pilot penerbang langsung ke rumah kami meminta barang itu. Mereka bawa 4 sampai 5 biji setiap jenisnya," cerita Milkias saat ditemui detikKalimantan di pondok sawah miliknya, Jumat (13/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Amerika, kerajinan rotan ini sudah menyebar luas ke negara tetangga seperti Brunei Darussalam dan Malaysia Barat seperti Sabah, Miri, hingga Bintulu.

"Orang luar negeri menyukai kualitas anyaman kami kelompok buat karena unik dan daya tahannya yang teruji," tuturnya.

Tak hanya diminati pasar global, pejabat dalam negeri pun kepincut. Milkias menyebut sejumlah nama besar pernah memborong karyanya, mulai dari Menteri Sosial Tri Rismaharini, Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara, Bupati, Kapolda hingga Kapolres setempat.

Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)

"Ibu Menteri Risma saat beli produk kami tanpa tawar langsung di angkut sebanyak 20 buah. Pak Gubernur, Pak Wakil, dan mantan Bupati juga pernah," tambahnya.

Harga yang ditawarkan bervariasi tergantung kerumitan. Mulai dari Rp 50 ribu untuk pernak-pernik kecil, hingga Rp 15 juta untuk jenis tempayan besar atau motif gong setinggi manusia.

"Tempayan sama gong itu Rp 15 juta. Karena kami hitung dari materialnya, rotan yang diraut satu biji saja dijual Rp 2.000, belum harian kerjanya," jelas Milkias.

Milkias percaya diri, ia bisa menjamin kualitas anyamannya mampu bertahan puluhan tahun.

"Ada yang kami buat 20 tahun lalu, sampai hari ini masih seperti semula," katanya.

Keluh Kesah Para Pengrajin

Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)

Milkias menganyam rotan dengan penuh ketelatenan. Ia bercerita, meski ia bangga dengan hasil karyanya bersama kelompok UMKM setempat, ada perjuangan yang harus dilakukan sebelum menghasilkan karya tangan yang cantik.

Menurut Milkias, kini stok bahan baku di alam kian menipis, memaksa mereka berjalan kaki seharian penuh demi mendapatkan rotan berkualitas. Pengrajin Desa Wa' Laya, mengaku kesulitan mendapatkan jenis rotan tertentu, seperti rotan rabun dan rotan bulu yang tumbuh liar di hutan gunung.

"Jangkauan untuk mengambil rotan ini kalau jalan kaki bisa satu hari. Stoknya menipis, apalagi rotan rabun di gunung-gunung. Rotan itu lambat berkembangnya," cerita Milkias.

Kondisi fisik yang tak lagi muda menjadi kendala utama. Ia telah berusia senja, sehingga tak sanggup lagi jika harus menempuh perjalanan jauh ke tengah hutan tanpa menginap.

"Saya sudah tidak muda lagi, apalagi harus menembus hutan belantara," terangnya.

Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)Sejumlah kreasi anyaman rotan kelompok Ebpa' Ra. (Oktavian Balang/detikKalimantan)

Milkias menyebut pihaknya sebenarnya sudah mengajukan solusi kepada pemerintah berupa usulan budidaya atau penanaman kembali rotan perkebunan. Tanaman rotan dinilai sangat cocok dikembangkan di wilayah tersebut karena merupakan tanaman alami setempat.

"Sudah kami bikin usulan proposal untuk penanaman rotan perkebunan, tapi sampai hari ini belum ada realisasi dari pihak pemerintah kabupaten maupun provinsi," ujarnya.

Selain bahan baku, para pengrajin juga mendambakan rumah produksi yang layak. Sebab selama ini, proses produksi dilakukan di rumah pribadi Milkias.

"Kami butuh wadah untuk transfer ilmu kepada para masyarakat lainnya. Di rumah juga ada cucu, kasihan mereka ruang gerak mereka terbatas," kata Milkias.



(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads