Sejarah

Sosok PM Noor, Satu-satunya Tokoh BPUPKI dari Kalimantan

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Minggu, 31 Mei 2026 14:09 WIB
Pahlawan nasional dari Kalimantan, PM Noor. Foto: Ilustrasi oleh Fuad Hasyim
Banjarmasin -

Bagi masyarakat Pulau Kalimantan, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel), nama Pangeran Mohamad Noor atau yang sering disingkat PM Noor tentu sudah tidak asing. Namanya banyak diabadikan menjadi nama jalan protokol di Kalsel maupun Kalimantan Timur.

Namun mungkin belum semua orang tahu siapa sosok PM Noor yang telah diangkat sebagai pahlawan nasional. Untuk mengenalnya lebih dekat, simak profil PM Noor berikut ini.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Ir Pangeran Mohamad Noor (PM Noor) lahir pada 24 Juni 1901 di Martapura, kota yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Banjar. Dia adalah putra Pangeran Ali dan Ratu Intan yang masih memiliki garis keturunan langsung dari Sultan Adam serta pahlawan Panembahan Antasari.

Meski lahir di lingkungan keluarga aristokrat yang terpandang, masa kecil PM Noor justru banyak dihabiskan dengan membaur bersama anak-anak dari kalangan rakyat jelata. Pengalaman berinteraksi langsung dengan akar rumput ini menumbuhkan sifat populis serta pemihakan yang kuat terhadap kesejahteraan rakyat miskin.

Perjalanan akademisnya dimulai dari Sekolah Rakyat pada tahun 1911 hingga akhirnya ia menamatkan pendidikan di Technische Hoogeschool (THS) Bandung pada tahun 1927. Pencapaian akademis yang gemilang ini menjadikannya sebagai sarjana teknik atau insinyur pertama yang lahir dari tanah Kalimantan.

Semasa menempuh pendidikan di Bandung, PM Noor mulai aktif mengasah visi kebangsaannya melalui wadah organisasi kepemudaan Jong Islamieten Bond. Di lingkungan pergerakan itulah ia banyak berdiskusi mengenai politik dan menjalin persahabatan dengan tokoh proklamator Sukarno.

Kesadaran politiknya makin matang saat ia dipercaya menjadi anggota dewan Volksraad mewakili wilayah Kalimantan pada periode 1931-1939. Sebagai wakil rakyat, ia sangat vokal membela keadilan hingga hak bicaranya sempat dicabut karena berani mencela kebijakan kolonial Belanda yang menekan harga karet rakyat.

Peran Strategis di BPUPKI

Menjelang kemerdekaan, PM Noor ditunjuk sebagai satu-satunya utusan dari Kalimantan untuk duduk di dalam sidang kedua BPUPKI pada tanggal 10 Juli 1945. Dia diperkenalkan sebagai salah satu dari enam anggota baru BPUPKI.

Di dalam dewan tersebut, ia ditugaskan merancang panitia pembelaan tanah air dan membulatkan suara untuk mendirikan Indonesia sebagai negara republik bersistem kesatuan.

Setelah rumusan dasar negara selesai, ia bersama Bung Hatta menjalankan misi rahasia bersejarah bernama "Operation Kalimantan" pada tahun 1945. Mereka nekat terbang ke Banjarmasin menggunakan pesawat angkut Jepang di bawah ancaman pesawat pengebom Sekutu demi mengadakan rapat akbar kemerdekaan.

Rapat yang diselenggarakan di bioskop Rex tersebut bertujuan untuk memastikan seluruh rakyat Kalimantan memihak dan mendukung penuh Republik Indonesia. Pengalaman menegangkan karena berhasil lolos dari maut ini kelak menginspirasi langkah beraninya dalam mempertahankan wilayah tersebut dari incaran penjajah.




(bai/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork