Hari Kesaktian Pancasila: Sejarah Penetapan dan Peristiwa G30S/PKI

Sejarah

Hari Kesaktian Pancasila: Sejarah Penetapan dan Peristiwa G30S/PKI

Bayu Ardi Isnanto - detikKalimantan
Kamis, 01 Okt 2026 07:00 WIB
Peristiwa 30 September 1965 jadi salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Monumen Pancasila Sakti pun disebut jadi saksi bisu prahara tersebut
Monumen Pancasila Sakti. Foto: Agung Pambudhy
Balikpapan -

Tanggal 1 Oktober menjadi momen bersejarah yang selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini berbeda dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.

Hari Lahir Pancasila berkaitan dengan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), saat pertama kalinya Pancasila diperkenalkan. Sementara Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Dalam artikel ini akan kita ulas bagaimana sejarah penetapan Hari Kesaktian Pancasila. Selain itu, ketahui juga sejarah yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penetapan Hari Kesaktian Pancasila

Dikutip dari situs Sonobudoyo Pemprov DIY, Hari Kesaktian Pancasila secara resmi ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri/Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada tanggal 5 Oktober 1966. SK ini mengukuhkan bahwa 1 Oktober sebagai peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Berdasarkan Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 2 No 2 Tahun 2017, peristiwa ini diabadikan dengan pembangunan Monumen Pancasila Sakti. Hal ini ditujukan untuk mengenang besarnya pengorbanan bangsa Indonesia dalam perjuangan untuk membela, mempertahankan Pancasila, serta mencapai cita-cita proklamasi.

Latar Belakang Hari Kesaktian Pancasila

Latar belakang peristiwa itu sangat lekat dengan intrik politik pada masa itu. Berdasarkan materi artikel dalam jurnal Historia tersebut, kisah ditarik dari sekitar 1950, ketika PKI mulai bangkit.

Saat itu mereka mengubah pola politik ekstrem menjadi politik kerja sama dengan kelompok nasionalis Partai Nasional Indonesia (PNI). Dukungan tanpa syarat terhadap kebijakan Presiden Soekarno kemudian dibalas dengan memberikan konsesi-konsesi politik kepada PKI. Manuver PKI dalam melapangkan jalan agendanya terangkum dalam beberapa langkah berikut:

  • PKI memanfaatkan kepercayaan yang diberikan untuk memasukkan program mereka sebagai program nasional, sehingga program Manipol dan Nasakom menjadi celah agar mereka terwakili di lembaga pemerintahan dari pusat hingga daerah.
  • PKI sengaja menciptakan prasyarat runtuhnya pemerintahan dengan menuduh kebobrokan ekonomi terjadi akibat belum dilaksanakannya kabinet Nasakom. Padahal, mereka sengaja berbuat supaya keadaan ekonomi kolaps sebagai prasyarat untuk merebut kekuasaan negara.
  • Dengan memanfaatkan konfrontasi Malaysia (Dwikora), PKI gencar menuntut pemerintah untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai 'serangan imperialis'.
  • Sampai awal tahun 1965, PKI berhasil menguasai media massa dan menghancurkan pers dari kekuatan politik lain yang menentangnya dengan menuduhnya sebagai antek BPS.

Malam Kelam 30 September 1965

Puncak dari intrik tersebut adalah peristiwa pemberontakan di Jakarta pada tengah malam menjelang 1 Oktober 1965. Pemberontakan bermaksud untuk merebut pimpinan negara dengan penculikan dan pembunuhan.

Kelompok pemberontak tersebut ingin menghilangkan penghalang utama dari rencana mereka, yakni para jenderal dan perwira tinggi TNI Angkatan Darat. Namun salah satu target mereka, Jenderal TNI AH Nasution berhasil lolos.

Peristiwa tragis dini hari tersebut menelan korban tujuh Pahlawan Revolusi dengan rincian sebagai berikut:

  1. Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani
  2. Deputi II Men/Pangad Mayjen Suprapto
  3. Asisten I Men/Pangad Mayjen S Parman
  4. Deputi III Men/Panglima Angkatan Darat Mayjen MT Haryono
  5. Oditur Jenderal Militer/Inspektur Kehakiman AD Brigjen Sutoyo
  6. Asisten Men/Pangad Brigjen DI Panjaitan
  7. Ajudan pribadi Jenderal AH Nasution, Lettu Pierre Andreas Tendean

Para korban diculik ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan jenazah mereka dimasukkan ke sebuah sumur tua berdiameter sekitar 75 sentimeter dengan kedalaman sekitar 12 meter. Tempat ini kemudian disebut Sumur Lubang Buaya.

Baru pada 3 Oktober 1965, tim menemukan sumur yang sudah ditutupi gundukan tanah. Penggalian dilanjutkan pada 4 Oktober. Jenazah ketujuh korban berhasil dievakuasi dari sumur pada 5 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Setelah itu, PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Operasi penumpasan setelah peristiwa G30S/PKI dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Kostrad.

Makna Hari Kesaktian Pancasila

Sementara itu, merujuk pada pesan dari situs Kesbang Kota Jogja, peringatan ini memiliki makna yang relevan hingga masa kini. Melalui Hari Kesaktian Pancasila, kita diingatkan tentang:

  • Pentingnya menjaga semangat juang dan pengorbanan dalam mempertahankan ideologi dasar negara.
  • Keharusan bagi masyarakat untuk merayakannya dengan penuh rasa syukur.
  • Komitmen teguh untuk senantiasa mengamalkan nilai-nilai fundamental Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman 2 dari 2
(bai/sun)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads