Sejumlah tokoh asal Kalimantan ini memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Mereka berjuang tidak hanya melawan penjajahan, tetapi juga berupaya mempertahankan kemerdekaan, membangun pemerintahan, memperjuangkan pendidikan, serta memperkuat persatuan bangsa.
Para pejuang dari Tanah Borneo berikut turut berperan mengukir sejarah Kemerdekaan Indonesia. Lantas, siapa saja pahlawan nasional yang berasal dari Kalimantan?
Daftar Pahlawan Nasional Asal Kalimantan
Berikut nama pahlawan Nasional asal Kalimantan, dirangkum detikKalimantan dari berbagai literarur:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Pangeran Antasari
Gambar pahlawan Pangeran Antasari dalam pecahan uang Rp 2.000 Foto: Ari Saputra |
Pangeran Antasari dikenal sebagai pemimpin Perang Banjar melawan Belanda pada tahun 1859. Ia adalah seorang pemimpin yang tidak hanya memiliki status bangsawan, tetapi juga memiliki semangat perlawanan yang membara terhadap penjajahan.
Pangeran Antasari merupakan seorang Sultan serta pemimpin dalam Perang Banjar untuk melawan pasukan kolonial Belanda. Perang yang berlangsung selama bertahun-tahun ini menjadi salah satu perlawanan paling bersejarah di nusantara, menunjukkan ketangguhan rakyat Banjar dalam menghadapi kecanggihan militer Belanda.
Meskipun akhirnya perlawanannya dapat ditaklukkan oleh Belanda, semangat Pangeran Antasari tetap menjadi inspirasi bagi generasi pejuang berikutnya. Ia dikenal memiliki kemampuan dalam mengatur strategi perang gerilya dan mampu menggerakkan masyarakat untuk menghadapi kekuatan kolonial.
Salah satu semboyan yang lekat dengan perjuangannya adalah 'Haram manyarah, waja sampai kaputing', yang menggambarkan keteguhan untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi perjuangan. Pada tanggal 11 Oktober 1862, perjuangan Antasari terhenti karena meninggal dunia di Bayan Begak, Kalimantan Selatan.
Pangeran Antasari merupakan salah satu tokoh pahlawan yang terkenal dari Kalimantan Selatan. Wajah Pangeran Antasari kita kenal terdapat pada uang lembaran Rp 2 ribu edaran lawas. Selain itu, namanya juga diabadikan menjadi nama jalan di wilayah Jakarta Selatan. Pangeran Antasari dianugerahkan sebagai pahlawan nasional pada 27 Maret 1968, melalui Keputusan Presiden No. 06/TK/Tahun 1968.
2. Brigjen Hasan Basry
Brigjen (Purn) Hasan Basry, mantan Pangdam Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. (dok Istimewa) |
Hasan Basry merupakan tokoh perjuangan dari Kalimantan Selatan yang berperan besar dalam mempertahankan keberadaan Republik Indonesia di wilayah Kalimantan setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Perjuangannya berkaitan erat dengan gerakan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Selatan pada masa revolusi. Ia bersama rakyat Kalsel melawan Belanda yang mau menguasai kembali wilayah Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.'
Keteguhan Hasan Basry dalam mempertahankan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia membuatnya dijuluki sebagai Bapak Gerilya Kalimantan sekaligus pendiri ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
Pada 17 Mei 1949 ketika Hasan Basry membacakan Proklamasi Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Desa Niih, Kandangan. Melalui proklamasi tersebut dirinya menegaskan bahwa seluruh Kalimantan Selatan tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia serta menolak segala bentuk pemerintahan bentukan Belanda. Peristiwa ini kemudian kita kenal sebagai Proklamasi 17 Mei 1949.
Seusai perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Bapak Gerilya bersama para pejuang, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah membentuk Dewan Lambung Mangkurat dalam reuni pejuang pada 3-10 Maret 1957. Salah satu keputusan penting dewan tersebut adalah mendirikan perguruan tinggi pertama di Kalimantan Selatan yang kemudian diberi nama Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Namanya begitu lekat dengan sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan. Berbagai peninggalan dan monumen perjuangannya masih dikenang hingga kini, termasuk Monumen Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan.
Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 110/TK/Tahun 2001 yang ditetapkan pada 3 November 2001.
3. KH Idham Chalid
KH Idham Chalid. Foto: Dok. NU |
Kalimantan Selatan memiliki tokoh penting yang mampu menjaga kesederhanaan di tengah kekuasaan, yakni KH Dr. Idham Chalid. Sosoknya bukan sekadar politisi, tetapi juga seorang ulama, pendidik, dan negarawan yang mengabdi sepenuh hati tanpa pamrih.
Idham Chalid merupakan tokoh asal Satui, Kalimantan Selatan, yang memiliki kiprah panjang dalam bidang keagamaan dan politik nasional. Kecerdasan dan wawasannya membuat Idham cepat menanjak di organisasi keagamaan dan politik.
Ia pernah menjabat sebagai anggota DPR-RIS (1950), Konstituante (1956-1959), serta Wakil Perdana Menteri dalam beberapa kabinet seperti Kabinet Ali Sastroamidjojo II, Kabinet Djuanda, dan Kabinet Dwikora.
Selain itu, Idham juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial ad interim, Ketua DPR/MPR RI (1971-1977), dan Ketua DPA RI (1978-1983).
Meski pernah duduk di jabatan tinggi negara, Idham Chalid hidup dengan sangat sederhana. Rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan, bukanlah rumah mewah, melainkan kompleks pesantren tempatnya mengajar dan membina santri.
Karena itu, ia dikenal publik sebagai 'Ketua DPR termiskin'. Setelah tidak lagi aktif di politik, Idham Chalid memilih kembali ke dunia pendidikan dan sosial. Ia mengasuh pesantren dan rumah yatim di Cisarua, Bogor, serta tetap aktif mengajar hingga usia senja.
Sebagai pengakuan atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Dr. Idham Chalid melalui Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011 pada 7 November 2011. Ia menjadi putra Kalimantan Selatan ketiga yang mendapat gelar tersebut, setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry.
Namanya pun kini diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp5.000, sebagai pengingat akan sosok pemimpin yang hidupnya jauh dari kemewahan meski pernah memegang jabatan tinggi negara.
4. Tjilik Riwut
Tjilik Riwut (Dok. MMC Provinsi Kalteng) |
Sosok Tjilik Riwut sendiri tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang lahirnya Provinsi Kalimantan Tengah dan pembangunan Kota Palangka Raya. Dia adalah seorang tokoh Dayak Ngaju kelahiran Kasongan pada tanggal 2 Februari 1918 yang tumbuh dalam lingkungan beradat istiadat kental.
Peran penting Tjilik Riwut dalam sejarah Indonesia semakin terlihat saat dia memimpin ekspedisi ke pedalaman Kalimantan Tengah pasca Proklamasi Kemerdekaan. Dia berhasil menyatukan dan memperoleh dukungan dari berbagai suku Dayak agar tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Puncak karier pemerintahannya tercapai ketika dia secara resmi diangkat menjadi Gubernur Kalimantan Tengah yang pertama pada tanggal 30 Juni 1958. Berkat dedikasi panjangnya membangun ibu kota baru dari tengah hutan belantara, dia mendapat julukan kehormatan sebagai Bapak Pelopor Pembangunan Kota Palangka Raya.
Pada tahun 1998, Presiden BJ Habibie secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Tjilik Riwut atas pengabdian dan jasa-jasanya bagi bangsa Indonesia. Namanya kini abadi dikenang oleh masyarakat luas, bahkan turut diabadikan menjadi nama bandar udara utama yang beroperasi di Provinsi Kalimantan Tengah.
5. Abdul Kadir atau Raden Temenggung Setia Pahlawan
Abdul Kadir merupakan pahlawan nasional yang berasal dari Kalimantan Barat. Ia lahir pada 1771 di wilayah Sintang dan kemudian dikenal sebagai bangsawan yang memimpin wilayah Melawi.
Pada 1845, Abdul Kadir dipercaya menjadi Kepala Pemerintahan Melawi, sebuah wilayah yang saat itu berada di bawah Kerajaan Sintang. Sebagai pejabat kerajaan, ia memperoleh gelar Raden Temenggung. Dalam menjalankan pemerintahan, ia turut mengembangkan potensi ekonomi daerah serta berupaya mempererat persatuan antara masyarakat Dayak dan Melayu.
Selain berperan dalam pemerintahan dan perekonomian, Abdul Kadir juga dikenal karena perjuangannya menghadapi Belanda yang berusaha menguasai wilayah Melawi. Melalui strategi peran ganda, ia kemudian tetap melanjutkan perlawanan terhadap kolonial hingga 1875.
Perlawanan tersebut akhirnya membuat Abdul Kadir ditangkap dan ditahan oleh Belanda di Nanga Pinoh, Melawi. Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1999 melalui Keputusan Presiden Nomor 114/TK/1999 yang ditetapkan pada 13 Oktober 1999.
6. Sultan Aji Muhammad Idris
Sultan Aji Muhammad Idris. Foto: Dok. Diskominfo Pemprov Kaltim |
Nama Sultan Aji Muhammad Idris tercatat dalam sejarah panjang tanah Kutai, memiliki peran penting dalam kemerdekaan. Sosok ini bukan hanya menjadi penguasa Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di abad ke-18, tapi juga seorang pemimpin yang berani mengangkat senjata dan meninggalkan tahta demi membela tanah air dari cengkeraman penjajahan.
Tahun-tahun menjelang pertengahan abad ke-18 menjadi saksi pilihan besar yang ia ambil. Sultan Idris menjalin hubungan politik dan militer dengan La Maddukelleng, bangsawan Wajo dari Sulawesi Selatan. Ia menikahi cucu La Maddukelleng pada tahun 1732, yang kemudian menjadi titik awal aliansi penting dalam menghadapi penjajahan.
Ketika melihat kekejaman dan keserakahan VOC di wilayah Sulawesi Selatan, Sultan Idris memilih untuk turun langsung membantu mertuanya, La Maddukelleng dalam perjuangan bersenjata. Ia mengorbankan kenyamanan singgasananya dan memimpin langsung ekspedisi militer melawan Belanda.
Di bawah komandonya, pasukan Kutai, Pasir, Sambaliung, dan Pangatan dipersiapkan untuk bertempur. Ia juga aktif mengoordinasikan pengadaan senjata dan mesiu dari berbagai wilayah seperti Brunei dan Mindanao.
Bahkan pada tahun 1736 dan 1737, Sultan Idris memimpin serangan langsung ke benteng VOC di Makassar, termasuk Fort Rotterdam. Peristiwa ini merupakan bentuk tindakan yang sangat berani dari Sultan Idris mengingat kekuatan VOC saat itu sangat dominan di kawasan maritim.
Sayangnya, nasib berkata lain. Pada tahun 1739, Sultan Idris dilaporkan gugur di tanah Wajo, wilayah kerajaan mertuanya, dalam sebuah pertempuran atau kemungkinan besar saat memimpin gerakan terakhir melawan VOC bersama rakyat Bugis.
Pada 10 November 2021, pengabdian dan perjuangannya akhirnya diakui secara resmi oleh negara. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Ke-7 RI Joko Widodo dan menjadi pahlawan nasional pertama dari Kalimantan Timur.
7. PM Noor
PM Noor Foto: Ilustrasi oleh Fuad Hasyim |
Ir Pangeran Mohamad Noor (PM Noor) adalah putra Pangeran Ali dan Ratu Intan yang masih memiliki garis keturunan langsung dari Sultan Adam serta pahlawan Panembahan Antasari.
Menjelang kemerdekaan, PM Noor ditunjuk sebagai satu-satunya utusan dari Kalimantan untuk duduk di dalam sidang kedua BPUPKI pada tanggal 10 Juli 1945. Dia diperkenalkan sebagai salah satu dari enam anggota baru BPUPKI.
Di dalam dewan tersebut, ia ditugaskan merancang panitia pembelaan tanah air dan membulatkan suara untuk mendirikan Indonesia sebagai negara republik bersistem kesatuan.
Setelah proklamasi dikumandangkan, Presiden Sukarno secara resmi melantik PM Noor sebagai Gubernur Kalimantan pertama pada tanggal 19 Agustus 1945. Akibat kondisi ibu kota yang bergejolak, ia terpaksa memimpin jalannya pemerintahan dan perlawanan gerilya dari wilayah Yogyakarta sehingga ia dijuluki sebagai "Gubernur Perjuangan".
Memasuki era pembangunan nasional, kepiawaian teknokratis PM Noor kembali diandalkan saat ia ditunjuk sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga. Dia memelopori megaproyek Barito River Authority atau pengerukan Sungai Barito demi memperlancar jalur kapal samudra dan meningkatkan urat nadi perekonomian daerah.
Mahakarya infrastruktur besar lainnya yang ia gagas adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Riam Kanan dengan kapasitas terpasang sebesar 30 MW. Keberhasilan proyek kelistrikan yang sangat menunjang kemakmuran masyarakat tersebut kini diabadikan secara resmi dengan nama PLTA Ir H PM Noor.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari negara, Presiden ke-7 RI Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2018.
8. Dokter Rubini
Profil dr Rubini Natawisastra, Bergelar Pahlawan Nasional di 2022 Foto: Dok. RSUD dr Rubini Mempawah |
Raden Rubini Natawisastra dilahirkan di Bandung pada tanggal 31 Agustus 1906 dari keluarga bangsawan etnis Menak Sunda yang terpelajar. Sebagai dokter yang dekat dengan rakyat, ia rutin berkeliling memberikan pengobatan ke daerah terpencil di pedalaman tanpa membedakan status sosial masyarakatnya.
Di tengah kesibukan medisnya, dr Rubini meluangkan waktu bergabung dengan Soos Medan Sepakat dan menjadi pengurus wilayah Partai Indonesia Raya (Parindra) demi memupuk jiwa patriotisme. Melalui organisasi politik tersebut, ia berhasil mendorong berbagai program kemajuan untuk rakyat seperti pendirian sekolah, koperasi, kelompok kesenian, dan klub olahraga.
Ketika balatentara Jepang berkuasa pada 1942, dr Rubini menolak dievakuasi oleh Belanda karena memilih tetap tinggal untuk menolong korban pengeboman dan merawat wanita korban kekerasan tentara pendudukan. Untuk menyiasati pembekuan partai politik oleh Jepang, ia bersama para tokoh pergerakan membentuk organisasi Nissinkai sebagai kedok agar bisa terus berkoordinasi secara rahasia.
Setelah Nissinkwai dibubarkan Jepang, dr Rubini memimpin gerakan perlawanan bawah tanah dengan membentuk pasukan penyerbuan bersenjata yang dinamakan 'Soeka Rela' pada Juni 1943. Rencana pemberontakan yang dijadwalkan pada 8 Desember 1943 itu sayangnya tercium oleh Jepang, sehingga dr Rubini beserta rekan-rekannya tertangkap melalui sebuah jebakan pada bulan Oktober 1943.
Dokter Rubini, sang istri, dan puluhan tokoh penting lainnya dieksekusi mati oleh tentara Jepang pada 28 Juni 1944 dan jasadnya disemayamkan di kuburan massal Mandor.
Profil dr Rubini Natawisastra, Bergelar Pahlawan Nasional di 2022 Foto: Dok. RSUD dr Rubini Mempawah |
Untuk mengenang jasa-jasanya, masyarakat dan pemerintah meresmikan perubahan nama Rumah Sakit Umum Mempawah menjadi "Rumah Sakit Dokter Rubini" melalui SK Bupati tertanggal 6 Agustus 1984. Puncak penghormatan bagi dedikasi sang patriot ini terwujud ketika dr Rubini secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 7 November 2022.
Sumber:
1. Arsip liputan detikcom
2. Laman Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Selatan
3. Laman BPK Provinsi Kalimantan Selatan
4. Laman Kementerian Agama RI
5. Buku Idham Chalid: Guru Politik Orang NU karya Ahmad Muhajir
6. Laman Kementerian Budaya
7. Buku Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris karya Suriadi dkk.
8. Penguatan dan Pelemahan Persatuan Bangsa: Media dan Tokoh di Kalimantan Selatan (1923-1959) dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat Tahun 2019
9. Kiprah Pangeran Mohamad Noor dalam Dinamika Politik Indonesia (1945-1967) dalam HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Vol. I, No. 2 (April 2018) 1 oleh Helius Sjamsuddin








