Polemik Lomba Cerdas Cermat MPR di Kalbar, Speaker Disebut Bermasalah

Polemik Lomba Cerdas Cermat MPR di Kalbar, Speaker Disebut Bermasalah

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Senin, 11 Mei 2026 21:15 WIB
Tangkapan layat Lomba Cerdas Cermat MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang viral. (dok YouTube MPRGOID)
Foto: Tangkapan layat Lomba Cerdas Cermat MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang viral. (dok YouTube MPRGOID)
Pontianak -

Polemik penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat (Kalbar) diduga dipicu gangguan teknis pada perangkat audio. Speaker yang mengarah ke meja dewan juri disebut mengalami masalah sehingga jawaban peserta tidak terdengar jelas saat perlombaan berlangsung.

Hal itu diungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, menanggapi polemik penilaian yang diprotes tim SMA Negeri 1 Pontianak.

"Informasi yang saya terima, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas. Sementara di live YouTube dan ke audiens penonton, suara terdengar jelas," kata Faisal, Senin (11/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Faisal, gangguan speaker itu diduga menjadi salah satu penyebab munculnya perbedaan penilaian dalam lomba tersebut. Sebab, suara peserta yang terdengar jelas bagi penonton ternyata tidak sepenuhnya diterima dengan baik di meja dewan juri.

Polemik ini mencuat usai beredarnya video protes dari tim SMAN 1 Pontianak di media sosial. Dalam video itu, peserta mempertanyakan keputusan juri yang menyatakan jawaban mereka salah dengan alasan artikulasi tidak jelas.

Padahal, publik menilai substansi jawaban yang disampaikan sama dengan jawaban tim daro SMAN 1 Sambas yang justru dinyatakan benar dan mendapat poin.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalbar Harisson Azroi turut berkomentar. Harisson menilai di era digital saat ini penyelenggara kegiatan berskala nasional seharusnya sudah dilengkapi perangkat rekam digital yang memadai untuk mengantisipasi sengketa penilaian.

"Di era digital ini, sekelas MPR harusnya punya perekam digital yang dapat diputar setiap saat pada saat pertandingan berlangsung, terutama pada saat ada protes atau pada saat dewan juri sedang tidak konsentrasi," kata Harisson, Senin (11/5/2026).

Menurut Harisson, keberadaan rekaman digital bukan hanya penting sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi alat evaluasi untuk menjaga transparansi dan objektivitas selama perlombaan berlangsung.

Ia menyebut rekaman audio maupun video dapat menjadi dasar ketika muncul keberatan dari peserta maupun sekolah pendamping.

"Jadi ketika ada sanggahan atau protes, bisa langsung diputar ulang. Itu akan lebih fair bagi semua peserta," ujarnya.




(bai/bai)

Koleksi Pilihan

Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads