Di bangunan sederhana yang nyaris tak layak disebut rumah, Kamsori (65) menjalani hari-harinya. Ia hidup berdampingan dengan ayam, burung, dan kambing miliknya.
Ia tidur, beristirahat, bahkan menghabiskan malamnya dalam satu atap bersama kambing-kambing peliharaannya, yang terpisah sekat sederhana dari kayu secara longgar. Bau menyengat yang mungkin mengganggu orang lain, telah menjadi hal biasa baginya.
Kamsori tak memiliki kamar. Bahkan, kamar mandi yang ada pun jauh dari kata layak. Jamban sederhana yang ia gunakan hanya terbuat dari batang bambu, ditutup karung plastik seadanya.
Dengan keterbatasan itu, hidup Kamsori tetap berjalan. Ia tinggal di Desa Sumbermulya, RT 15 RW 07, Kecamatan Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat.
Biasanya, Kamsori memulai hari dengan salat subuh. Setelahnya, ia berangkat bekerja; kadang mencangkul di sawah, kadang menjadi buruh bangunan. Sepulang bekerja, ia masih harus mencari rumput untuk pakan kambing-kambingnya.
Ia benar-benar hidup dalam nestapa dan senyap atau tidak banyak mengeluh. Pria 65 tahun ini pernah menikah, tetapi kini telah bercerai. Ia juga tidak memiliki anak yang menemani hari tuanya.
"Baik," jawabnya singkat saat ditanya kabar, Sabtu (4/4/2026).
Sudah 24 tahun lamanya ia tinggal di tempat itu. Sebelumnya, ia tinggal bersama orang tuanya. Namun setelah mereka tiada, ia bertahan hidup di ruang sederhana yang kini menjadi rumah sekaligus kandang. Tidak banyak mengeluh bukan berarti tanpa keluhan.
"Kalau hujan, air masuk semua, tembus. Kadang banjir juga, jadi tidak bisa tidur," keluhnya.
Belum lagi nyamuk yang banyak dan kondisi lingkungan yang lembap. Namun anehnya, suara kambing dan bau kandang bukan lagi masalah baginya.
"Sudah biasa," ucapnya pelan.
Di balik kesederhanaan hidupnya, tersimpan harapan yang sangat sederhana; memiliki rumah yang layak.
"Pengen, sebenarnya," katanya.
Simak Video "Video: Di Hadapan Putin, Prabowo Ngaku Mau Konsultasi Geopolitik"
(sun/aau)