Indonesia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan ditargetkan mulai beroperasi paling cepat tahun 2032, dengan salah satu opsi lokasi yakni Kalimantan Barat. Sebagai persiapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memetakan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) untuk pengembangan PLTN tersebut.
Mengutip detikInet, BRIN memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti di bidang nuklir. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Edy Giri Rachman Putra menjelaskan peningkatan kebutuhan talenta riset dan teknologi ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem tenaga nuklir dalam negeri.
"Kami memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran untuk mendukung pengembangan riset dan teknologi ke depan," ujar Edy dikutip dari pernyataan tertulisnya, Rabu (11/3/2026).
Edy mengatakan pengembangan SDM menjadi faktor penting dalam persiapan Indonesia memasuki era energi nuklir, terutama untuk mendukung tahapan riset, pengembangan teknologi, dan operasional pembangkit di masa depan.
Di sisi lain, Edy menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan SDM ini masih menghadapi tantangan. Minat talenta muda di Indonesia untuk berkarier di bidang nuklir masih terbatas karena bidang ini memang masih sangat baru. Menurut Edy, lulusan pendidikan bidang nuklir pun tidak semuanya mau menjadi peneliti di sektor tersebut.
"Tantangannya memang tidak mudah mencari orang yang mau berkarier sebagai peneliti nuklir. Bahkan lulusan dari pendidikan nuklir sendiri belum tentu semuanya masuk ke bidang ini," ujarnya.
BRIN juga mendorong agar link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri nuklir diperkuat. Sektor ini, kata Edy, tidak hanya membutuhkan lulusan teknik nuklir dengan ijazah akademik, tetapi juga kompetensi teknis yang memenuhi standar dan diakui dalam industri.
"Industri nuklir tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga sertifikasi kompetensi. Standar kompetensi kerja menjadi penting agar lulusan pendidikan dapat terserap di dunia industri," jelas Edy.
(des/des)