Peran Vital 'Akamsi' dalam Upaya Pemadaman Karhutla Tanjung Puting

Peran Vital 'Akamsi' dalam Upaya Pemadaman Karhutla Tanjung Puting

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 21 Okt 2026 15:31 WIB
Perjuangan memadamkan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Perjuangan memadamkan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP)/Foto: Istimewa
Kotawaringin Barat -

Perjuangan memadamkan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), berlanjut hingga malam hari. Petugas gabungan bersama relawan dan warga harus menerobos semak belukar dengan penerangan terbatas untuk menjangkau titik api.

Kapolres Kobar AKBP Joko Handono turun langsung memimpin upaya penanganan bersama personel gabungan pada Rabu (21/10/2026). Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan api agar tidak semakin meluas di kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Gelapnya medan dan rapatnya vegetasi menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Petugas harus bergerak hati-hati melewati jalur yang sulit dikenali, sekaligus mewaspadai duri dan potensi perjumpaan dengan satwa liar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam situasi tersebut, bantuan masyarakat setempat menjadi salah satu faktor penting. Warga yang mengenal kondisi medan membantu menunjukkan jalur menuju lokasi kebakaran, sehingga petugas dapat mencapai titik penanganan dengan lebih terarah.

AKBP Joko mengakui tanpa bantuan warga sekitar atau anak kampung sini (akamsi), upaya menjangkau titik api pada malam hari akan semakin sulit. Pengetahuan masyarakat mengenai akses dan kondisi kawasan sangat membantu personel gabungan serta relawan yang bekerja di lapangan.

"Tanpa masyarakat setempat, kami tidak tahu lokasi mana yang harus dilalui, apalagi malam hari dengan situasi gelap. Masyarakat desa luar biasa membantu kami, para satgas dan relawan yang benar-benar bekerja di lapangan," ujarnya.

Selain menghadapi medan yang sulit, petugas juga harus memperhitungkan risiko keberadaan satwa liar, termasuk buaya dan ular. Kondisi itu membuat koordinasi dengan warga yang memahami karakteristik kawasan menjadi penting agar proses pemadaman berlangsung lebih aman.

"Operasi tersebut melibatkan personel Polres Kobar, BKO Satbrimob Polda NTB, TNI, Manggala Agni, BPBD, relawan peduli api, organisasi terkait, serta masyarakat," ujarnya.

Mereka mengandalkan peralatan pemadam portabel untuk menjangkau dan menangani kebakaran di tengah keterbatasan akses. Setelah beberapa jam berjibaku, tim bisa menjinakkan dan melokalisasi titik api utama yang ditangani malam itu.

"Meski demikian, keberhasilan tersebut baru mencakup titik penanganan yang dilaporkan dan belum menandakan seluruh kebakaran di kawasan TNTP telah padam," ujarnya.

Pemantauan lanjutan masih diperlukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api, terutama di area yang belum tertangani. Kondisi vegetasi dan akses menuju lokasi menjadi tantangan dalam upaya mencegah kebakaran meluas ke bagian lain kawasan konservasi.

Kapolres mengapresiasi kerja sama seluruh personel, satgas, relawan, dan masyarakat yang terlibat dalam pemadaman. Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan sinergi berbagai pihak, dengan keselamatan petugas sebagai hal yang harus selalu diperhatikan.

"Kebakaran di TNTP menjadi perhatian serius karena kawasan tersebut merupakan habitat penting orang utan Kalimantan dan beragam satwa liar lainnya. Upaya pemadaman dan pemantauan secara berkelanjutan dibutuhkan untuk menekan risiko kerusakan ekosistem akibat kebakaran," pungkasnya.



(sun/aau)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads