RI Target Punya PLTN Tahun 2032, Butuh 200 Peneliti Nuklir

Nasional

RI Target Punya PLTN Tahun 2032, Butuh 200 Peneliti Nuklir

Agus Tri Haryanto - detikKalimantan
Rabu, 11 Mar 2026 16:00 WIB
Blue pipelines to transport seawater, part of the facility for releasing treated radioactive water to sea from the Fukushima Daiichi nuclear power plant, operated by Tokyo Electric Power Company Holdings, also known as TEPCO, are seen during a treated water dilution and discharge facility tour for foreign media, in Futaba town, northeastern Japan, Sunday, Aug. 27, 2023.     Eugene Hoshiko/Pool via REUTERS
Ilustrasi PLTN. Foto: via REUTERS/POOL
Balikpapan -

Indonesia berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan ditargetkan mulai beroperasi paling cepat tahun 2032, dengan salah satu opsi lokasi yakni Kalimantan Barat. Sebagai persiapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memetakan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) untuk pengembangan PLTN tersebut.

Mengutip detikInet, BRIN memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti di bidang nuklir. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Edy Giri Rachman Putra menjelaskan peningkatan kebutuhan talenta riset dan teknologi ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem tenaga nuklir dalam negeri.

"Kami memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran untuk mendukung pengembangan riset dan teknologi ke depan," ujar Edy dikutip dari pernyataan tertulisnya, Rabu (11/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Edy mengatakan pengembangan SDM menjadi faktor penting dalam persiapan Indonesia memasuki era energi nuklir, terutama untuk mendukung tahapan riset, pengembangan teknologi, dan operasional pembangkit di masa depan.

Di sisi lain, Edy menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan SDM ini masih menghadapi tantangan. Minat talenta muda di Indonesia untuk berkarier di bidang nuklir masih terbatas karena bidang ini memang masih sangat baru. Menurut Edy, lulusan pendidikan bidang nuklir pun tidak semuanya mau menjadi peneliti di sektor tersebut.

"Tantangannya memang tidak mudah mencari orang yang mau berkarier sebagai peneliti nuklir. Bahkan lulusan dari pendidikan nuklir sendiri belum tentu semuanya masuk ke bidang ini," ujarnya.

BRIN juga mendorong agar link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri nuklir diperkuat. Sektor ini, kata Edy, tidak hanya membutuhkan lulusan teknik nuklir dengan ijazah akademik, tetapi juga kompetensi teknis yang memenuhi standar dan diakui dalam industri.

"Industri nuklir tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga sertifikasi kompetensi. Standar kompetensi kerja menjadi penting agar lulusan pendidikan dapat terserap di dunia industri," jelas Edy.

Sebagai upaya memperkuat pengembangan talenta di bidang nuklir, BRIN membangun kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Mereka menyiapkan skema beasiswa khusus bagi pengembangan talenta di sektor yang masih terbilang baru di Indonesia ini.

BRIN juga berencana menyelenggarakan program pelatihan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas manajemen proyek energi nuklir di Indonesia, salah satunya Nuclear Energy Management School. BRIN berharap program ini dapat melibatkan perguruan tinggi dan industri, sehingga pengembangan SDM nuklir dapat dilakukan dengan lebih efektif dan kolaboratif.

Terpisah, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) menjelaskan penguatan SDM di bidang nuklir perlu juga didukung melalui penataan sistem kepegawaian aparatur sipil negara (ASN). Deputi Bidang SDM KemenPANRB Aba Subagja mengatakan saat ini komposisi ASN terbesar berada di jabatan fungsional. Para peneliti bidang nuklir juga akan masuk dalam kelompok jabatan ini.

"Artinya peluang karier ASN sebenarnya lebih terbuka luas di jabatan fungsional, termasuk jabatan fungsional di bidang iptek seperti peneliti dan perekayasa," ujarnya.

Aba menambahkan, pihaknya tengah melakukan penyusunan postur ASN di BRIN guna melihat komposisi kebutuhan pegawai secara lebih proporsional. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu perencanaan kebutuhan tenaga ahli, termasuk tenaga ahli nuklir, agar lebih sistematis.

"Talenta-talenta di bidang iptek perlu dikelola dengan baik, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengembangan kompetensi, hingga manajemen kariernya," tegasnya.

Baca selengkapnya di detikInet.

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads