Kata Pakar Energi soal RI Mau Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Kata Pakar Energi soal RI Mau Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Ilyas Fadilah - detikKalimantan
Senin, 16 Feb 2026 21:01 WIB
A nuclear power plant is located near the outskirts of Delhi, India. (Photo by Creative Touch Imaging Ltd./NurPhoto via Getty Images)
Ilustrasi PLTNuklir. Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Balikpapan -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Indonesia akan segera mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Dua lokasi yang tengah dipertimbangkan yakni Bangka Belitung (Babel) dan Kalimantan Barat (Kalbar).

Dikutip dari detikFinance, berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 diketahui pembangunan PLTN akan berlangsung.

Pakar energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi menilai wacana ini positif. Menurutnya, nuklir adalah energi masa depan yang secara nilai sangat ekonomis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia, karena harganya relatif lebih murah dibanding energi fosil," ujarnya.

Andi menyebut, Indonesia sangat mampu mengembangkan energi nuklir karena memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Dia pun menjelaskan bahwa industri nuklir saat ini sudah sangat modern. Dia menampik kekhawatiran yang masih jadi perbincangan publik terkait efek negatif dari nuklir.

"Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan," tegasnya.

Senada dengan Andi, pakar energi dari berbagai Universitas di Indonesia lainnya juga mendukung langkah Menteri ESDM. Menurut Pakar energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Muhammad Bachtiar Nappu, pengembangan energi nuklir dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi menuju energi bersih.

"Maka PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small," ujar Bachtiar.

Menurut Bachtiar, Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir. Daerah yang memiliki sumber daya ini pun, kata dia, juga tersebar di banyak daerah seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, bahkan di Mamuju.

Oleh karena itu, teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional. Reaktor modular ini dapat dibangun bertahap sesuai kebutuhan daerah, terutama untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil.

"Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW," ujar Bachtiar.

Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra juga mendorong agar pemerintah segera mengembangkan energi nuklir. Ary mengungkapkan sejumlah keunggulan teknis PLTN dibanding sumber energi konvensional.

"PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil," kata Ary.

Menurut Ary, dari sisi emisi, PLTN termasuk sumber energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. Hal ini membuat nuklir relevan dengan target penurunan emisi nasional.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads