Tarakan disebut-sebut sebagai 'ladang basah' bagi pengemis. Meski begitu, pengemis di Bumi Paguntaka cenderung berganti-ganti.
Kasi Ops Satpol PP Tarakan, Marzuki, menyebut pengemis di Tarakan biasanya pendatang. Jika satu kelompok merasa sudah tidak bisa beroperasi di Tarakan, mereka akan pindah ke daerah lain. Tak lama kemudian datang kelompok baru.
"Pengemis ini biasanya berganti-ganti orang, kalau sudah tidak bisa cari di sini dia pindah. Setelah dia pindah ke luar daerah ke mana gitu, mungkin datang lagi yang lain," kata ujar Marzuki kepada detikKalimantan, Selasa (20/1/2026).
Marzuki menambahkan para pengemis memiliki pola tempat tinggal yang terpusat. Berdasarkan pengamatan Satpol PP, mereka kerap bermukim di kawasan Kelurahan Karang Balik, Kecamatan Tarakan Barat.
"Biasanya mereka tinggalnya di Karang Balik situ. Kalau kami temukan sudah mulai Maret, biasanya kami datangi di situ. Kalau di situ banyak, berarti lagi banyak. Kalau tinggal 1-2 orang, berarti sedikit," jelasnya.
Di awal tahun 2026, Satpol PP Tarakan mencatat jumlah pengemis yang ditertibkan sekitar 10 orang. Penertiban difokuskan pada area publik seperti lampu merah dan pasar.
Sementara itu, soal Tarakan sebagai 'ladang basah' bagi pengemis sempat disinggung Peksos Ahli Pertama Dinsos PM Tarakan, Alghi Fari Smith. Menurutnya, Indeks kedermawanan warga Tarakan terbilang tinggi.
"Tarakan ini dikenal dengan indeks kedermawanan yang tinggi. Kalau di daerah lain mungkin dikasih recehan Rp 500 atau Rp 1.000, di Tarakan mereka sampaikan kalau minta dikasih uang Rp 5.000. Ini jadi peluang bagi mereka," tutur Alghi, Senin (19/1/2026).
Maka dari itu, ia mengajak warga Tarakan untuk menyalurkan jiwa sosial ke lembaga resmi, bukan ke pengemis. "Sebaiknya salurkan sedekah ke lembaga resmi seperti Baznas atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) agar tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan, serta menekan modus-modus penipuan di jalanan," terangnya.
Simak Video "Video: Pangdam Mulawarman Bicara Penyebab Anggota TNI Serang Mapolres Tarakan"
(sun/bai)