Kasi Ops Satpol PP Tarakan, Marzuki, menyebut pengemis di Tarakan didominasi pendatang dari luar pulau. Ia menjelaskannya berdasarkan pantauan dan giat penertiban yang dilakukan.
"Menurut pengalaman yang lalu-lalu sih, dari luar kota Tarakan kebanyakan. Minta maaf ya, dari teman-teman di daerah Jawa Timur biasanya," ujar Marzuki kepada detikKalimantan, Selasa (20/1/2026).
Marzuki menambahkan para pengemis memiliki pola tempat tinggal yang terpusat. Berdasarkan pengamatan Satpol PP, mereka kerap bermukim di kawasan Kelurahan Karang Balik, Kecamatan Tarakan Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya mereka tinggalnya di Karang Balik situ. Kalau kami temukan sudah mulai Maret, biasanya kami datangi di situ. Kalau di situ banyak, berarti lagi banyak. Kalau tinggal 1-2 orang, berarti sedikit," jelasnya.
Terkait modus operandi, Marzuki menyebut tidak ada metode baru yang signifikan. Para pengemis masih menggunakan cara-cara lama untuk menarik simpati warga. Mulai dari berjualan barang kecil hingga memanfaatkan komunitas motor tertentu.
"Modusnya seperti biasa, modus lama. Ada yang berjualan stiker, jualan Al-Qur'an kecil. Kalau anak-anak di lampu merah itu jualan kacang," paparnya.
Selain itu, fenomena komunitas 'Vespa gembel' juga menjadi sorotan. Menurut Marzuki, kelompok ini kerap ditemukan meminta-minta di jalanan.
"Salah satunya juga yang sering minta-minta itu biasanya komunitas motor 'Vespa gembel', itu juga sering kami dapatkan," tambahnya.
Marzuki mengakui pihaknya mengalami kendala jangkauan jika pengemis masuk ke area permukiman warga, kedai kopi, atau pelosok kampung karena keterbatasan personel.
"Kami kan cuma melakukan patroli rutin di seputaran kota dan jalanan. Kalau mereka masuk ke rumah-rumah atau pelosok, itu di luar jangkauan kami karena personel terbatas," ungkapnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat dan Ketua RT untuk aktif melapor jika menemukan aktivitas pengemis yang meresahkan di lingkungan perumahan. "Pentingnya laporan dari masyarakat atau RT. Kalau ada laporan, pasti segera kami tindak lanjuti," tegas Marzuki.
Di akhir keterangannya, Marzuki menekankan pentingnya sinkronisasi dengan Dinas Sosial sebagai leading sector penanganan PMKS. Satpol PP hanya bertugas sebatas menjaga ketertiban dan mengamankan, sementara pembinaan lanjutan berada di ranah Dinas Sosial.
"Perlu kerja sama. Jangan sampai kami amankan, tapi tidak ditangani serius oleh Dinas Sosial, ya sama saja kerja berkali-kali. Entah itu pembinaan atau dipulangkan, itu ranahnya mereka," pungkasnya.
Hingga awal tahun 2026, Satpol PP Tarakan mencatat jumlah pengemis yang ditertibkan belum terlalu banyak, berkisar di angka 10 orang. Penertiban difokuskan pada area publik seperti lampu merah dan pasar.
Simak Video "Menjelajahi Hutan Mencari Buah Lempasu di Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
