3 Modus Pengemis di Tarakan, yang Bawa Bayi Diduga Paling Miris

3 Modus Pengemis di Tarakan, yang Bawa Bayi Diduga Paling Miris

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 19 Jan 2026 13:00 WIB
Pengemis di Tarakan
Pengemis di Tarakan/Foto: Istimewa
Tarakan -

Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Tarakan membongkar sejumlah modus operandi yang kerap digunakan para pengemis dan peminta-minta. Berikut penjabarannya.

Tingginya jiwa sosial warga Tarakan dalam memberi sedekah kerap dimanfaatkan oknum-oknum tertentu. Modusnya beragam, mulai dari proposal pembangunan tempat ibadah fiktif, hingga dugaan eksploitasi anak dengan obat penenang.

Berikut adalah ragam modus pengemis di Tarakan yang diungkap Peksos Ahli Pertama Dinsos PM Tarakan, Alghi Fari Smith.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ragam Modus Pengemis:

1. Modus Proposal Pembangunan Fiktif

Salah satu modus yang marak ditemukan di rumah-rumah warga hingga tempat publik seperti Taman Berkampung adalah permintaan sumbangan dengan proposal.

"Biasanya mereka pakai modus 'minta mistiko' atau mengajukan proposal. Mengatakan untuk membangun pesantren atau masjid, tapi lokasinya beragam di luar Tarakan," ujar Alghi.

Namun, ketika petugas melakukan konfirmasi terkait izin penggalangan dana, para pelaku biasanya tidak bisa menunjukkannya.

"Begitu kita konfirmasi adakah izin penggalangan dananya, langsung kabur," tambahnya.

2. Jualan Berbalut Belas Kasihan

Modus lainnya adalah berjualan barang-barang kecil seperti buku doa, tisu, atau makanan ringan. Namun, target utamanya bukanlah penjualan produk, melainkan rasa iba.

Menurut Alghi, banyak anak-anak pedagang asongan yang memasang wajah memelas. Warga Tarakan yang berniat membantu seringkali memberikan uang tanpa mengambil barang dagangannya.

"Pada hakikatnya itu modus. Masyarakat yang melihat itu enggak tega, kasih uang tapi tidak membeli makanan yang mereka jual. Ini membuat mereka ketagihan karena mendapat uang dengan mudah," jelasnya.

3. Dugaan Bayi Diberi Obat Penenang

Yang paling mengejutkan, Alghi mengungkapkan adanya modus baru yang melibatkan eksploitasi anak secara ekstrem. Oknum pengemis membawa anak atau bayi yang terlihat tenang secara tidak wajar.

"Yang terbaru itu bawa anak, diduga dikasih obat penenang. Itu baru tuh. Supaya anteng saat dibawa meminta-minta," ungkap Alghi.

Modus itu menjadi perhatian serius karena membahayakan keselamatan anak demi meraup keuntungan dari belas kasihan warga.

Tarakan Jadi 'Lahan Basah' Pengemis Musiman

Maraknya pengemis di Tarakan, termasuk yang berasal dari luar daerah, disebabkan nominal sedekah warga Tarakan yang tergolong besar dibandingkan daerah lain.

"Tarakan ini dikenal dengan indeks kedermawanan yang tinggi. Kalau di daerah lain mungkin dikasih recehan Rp 500 atau Rp 1.000, di Tarakan mereka sampaikan kalau minta dikasih uang Rp 5.000. Ini jadi peluang bagi mereka," tutur Alghi.

Alghi menegaskan pemerintah tidak tutup mata. Banyak dari anak-anak jalanan tersebut yang keluarganya sebenarnya sudah mendapatkan bantuan lengkap dari pemerintah, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Sembako, hingga BPJS gratis.

"Sebaiknya salurkan sedekah ke lembaga resmi seperti Baznas atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) agar tepat sasaran dan bisa dipertanggungjawabkan, serta menekan modus-modus penipuan di jalanan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads