Banyak Modus Penipuan Online di Kalbar, Salah Satunya Belajar Kelompok

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Kamis, 13 Nov 2025 21:31 WIB
Kanit Siber Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar, Iptu Edi Tulus Wianto/Foto: Istimewa (dok Awak Pontianak)
Pontianak -

Kasus penipuan online di Kalimantan Barat (Kalbar) terus meningkat. Hingga November 2025, Subdit Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar mencatat ada 670 perkara tindak pidana penipuan online.

Kanit Siber Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Kalbar, Iptu Edi Tulus Wianto mengatakan angka ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman kejahatan digital terhadap masyarakat di era serba daring.

"Setahun ini saja sudah ada 670 kasus penipuan online yang kami tangani. Artinya, persoalan ini sangat mendesak dan perlu kesadaran bersama untuk menanganinya," kata Edi saat menjadi narasumber dalam diskusi publik 'Kejahatan Digital' yang diinisiasi Aliansi Wartawan Kriminal (Awak) Pontianak di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Kamis (13/11/2025).

Menurut Edi, tren penipuan online semakin beragam dan memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk menjerat korban. Pelaku kejahatan siber memanfaatkan berbagai modus untuk mengelabui korban, mulai dari phishing, giveaway palsu, kode OTP, hingga penipuan belajar kelompok yang menyasar pelajar SMA dan mahasiswa.

"Ada modus penipuan belajar kelompok. Awalnya korban diajak ikut kegiatan bersama lewat WhatsApp, diminta mentransfer sejumlah uang dengan iming-iming bonus atau hadiah. Rata-rata korbannya mengalami kerugian antara Rp 20 juta hingga Rp 300 juta," bebernya.

Edi menambahkan seorang pelaku bahkan bisa mengoperasikan lebih dari tiga nomor ponsel berbeda untuk menghindari pelacakan polisi. Dari ratusan laporan, tak ada nomor yang sama digunakan antar kasus.

"Pelaku menggunakan identitas palsu dan bermain di sisi emosional korban. Tujuannya menipu dan menekan agar korban cepat melakukan transfer," jelasnya.

Selain penipuan finansial, tren lain yang mulai marak adalah penipuan segitiga di Facebook dan kasus pemerasan melalui video call sex (VCS). Untuk penipuan segitiga, biasanya pelaku berpura-pura jadi pemilik mobil dan mengunggah foto lengkap dengan BPKB dan STNK.

"Korban yang tergiur langsung transfer tanpa konfirmasi ke pemilik asli. Begitu uang dikirim, pelaku langsung kabur," tuturnya.



Simak Video "Menemukan Lulur Alami dari Daun Aras di Kalimantan Barat"


(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork