Massa masih bertahan di lokasi sengketa lahan warga dan PT PRI di Tarakan, Kalimantan Utara. Mereka menunggu pimpinan perusahaan untuk menemui mereka dan menyelesaikan persoalan.
Perwakilan PT PRI sebetulnya sudah sempat menemui warga. Oemar Kadir selaku Manager SSL PT PRI yang datang terlambat langsung disambut keluhan ibu-ibu yang bosan menunggu.
Dalam dialog tersebut, Kadir berusaha membantah tudingan bahwa perusahaan tidak bekerja. Ia mengklaim pihaknya telah melakukan upaya terbaik.
"Dari ujung laut sudah kami keruk dan buang sampah, jadi dari Yapdin (juru bicara warga, Yapdin Situmorang) jangan bilang jika kita tidak kerja. Kami sudah berupaya agar genangan air tidak menggenangi lahan masyarakat," kata Kadir, Jumat (31/10/2025).
Namun, pembelaan itu tidak menyurutkan kemarahan warga. Yapdin memotong pembicaraan dan menegaskan bahwa masalah utama adalah dampak limbah yang merusak kebun warga, bukan sekadar bau.
"Bukan soal bau, ini tanaman sudah mati, kami sudah tidak bisa berkebun lagi, sudahlah tidak usah berdalih," sergah Yapdin.
Warga menuntut perusahaan segera menyelesaikan janji yang telah ditandatangani. Jika tidak, Yapdin mengancam massa akan bertambah dan nilai ganti rugi akan dinaikkan.
Dialog menemui jalan buntu ketika Kadir mengaku tidak bisa mengambil keputusan besar di lokasi.
"Saya hanya karyawan, pekerja kami di sini, tentu tidak bisa mengambil keputusan dalam hal ini," ujarnya.
Sontak, warga yang dipimpin Yapdin memutuskan untuk melanjutkan aksi blokade di jalan baru tersebut. Warga kemudian beristirahat untuk salat, sambil menunggu pimpinan tertinggi PT PRI yang memiliki wewenang untuk datang menemui mereka.
Selanjutnya, warga merasa ditipu...
Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"
(bai/bai)