Athaullah Daib menjadi kiper termuda yang dikontrak PSIM Jogja musim ini. Remaja 16 tahun itu mengungkapkan mendapat wejangan dari legenda hidup Laskar Mataram, Ony Kurniawan.
Diketahui, Ony sudah bermain bagi PSIM selama sekitar 15 tahun. Karena itu, dia mendapat julukan "One Man One Club" karena dedikasinya hanya bagi klub kebanggaan masyarakat Jogja tersebut.
Athaullah mengungkapkan, dia mendapat banyak pelajaran dari Ony sebagai sesama penjaga gawang, seperti teknik dan cara bermain. Namun lebih dari itu, Ony juga menanamkan pesan penting kepadanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Mas Ony itu banyak. Terutama saat bermain, dia bilang ke saya, 'Bermainlah pakai hati'," katanya, Rabu 912/8/2026).
Pesan itulah yang makin diresapinya setelah menembus tim senior PSIM. Ia harus siap bersaing dengan para pemain yang usianya jauh di atasnya.
Meski begitu, Athaullah mengaku tidak terbebani. Ia justru menikmati kesempatan bisa belajar dari para senior.
"Sangat senang. Banyak belajar juga dari senior-seniornya," ujarnya.
Berbagi Waktu dengan Sekolah
Mendapat kontrak profesional di usia 16 tahun, mau tidak mau Athaullah harus membagi waktu antara berlatih dan bersekolah. Ia kini duduk di kelas 11 SMA Negeri 2 Playen, Gunungkidul.
Setiap hari, dia harus menempuh perjalanan dari Gunungkidul dan berlatih bersama tim senior PSIM di Jogja.
elepas sekolah, Athaullah langsung bertolak ke Jogja untuk mengikuti latihan. Ia mengaku harus nglaju setiap hari.
"Kalau latihannya sore, saya berangkat sekolah dulu. Habis itu saya izin di siang hari, terus langsung berangkat latihan," ujarnya.
"Iya nglaju, biasanya pakai motor atau nggak diantar pakai mobil," lanjutnya.
Karena itu, rutinitas tersebut tidak jarang membuatnya harus meninggalkan sekolah lebih awal, bahkan terpaksa tak masuk jika ada momen pertandingan. Namun, dukungan orang tua membuat Athaullah Daib bisa menjalaninya.
"Kalau orang tua bilangnya, 'Jalanin dulu aja, Kak'," tuturnya.
Mimpi yang Jadi Kenyataan
Dikatakan Athaullah, dia yang hanya bisa bermimpi berseragam Laskar Mataram, musim ini benar-benar mewujudkan impiannya. Ada proses panjang yang harus dijalani, termasuk mengikuti seleksi dan bermain di Elite Pro Academy (EPA) PSIM.
"Pertama-tama saya mengucapkan alhamdulillah sudah bisa masuk di tim senior di umur 16 tahun ini. Di samping itu ada kerja keras dari saya, dari seleksi EPA, kemudian main di EPA. Terus alhamdulillah bisa masuk ke tim senior ini," tuturnya.
"Dulunya cuma mimpi saya bisa main di senior. Terus alhamdulillah sekarang sudah jadi kenyataan," ungkapnya.
Sebelum bergabung dengan EPA PSIM, Athaullah juga sudah memiliki pengalaman internasional. Pada 2023, ketika masih berusia 13 tahun, ia mengikuti program BARATI dan berkesempatan berangkat ke Swedia.
"Dulu sempat ke Swedia, Tim BARATI. Tahun 2023, umur 13 tahun. Itu kan seleksinya di Bali itu. Terus alhamdulillahnya saya bisa ikut, terus berangkat ke Swedia baru tahun 2023," tuturnya.
Kini, setelah mendapatkan kontrak profesional bersama PSIM selama satu musim, target Athaullah pun semakin tinggi.
"Semoga bisa menjadi lebih baik dari kemarin," ucapnya.
Ia juga memiliki satu impian besar yang ingin diwujudkan yakni membela Timnas Indonesia.
"Kalau itu ada (impian membela Timnas Indonesia). Semoga bisa," pungkasnya.
