Kabupaten Sleman bakal memiliki destinasi wisata baru berupa kereta gantung bertajuk Prambanan Heritage Skyline. Wahana ini direncanakan membentang sepanjang 8 kilometer dan menghubungkan beberapa destinasi wisata meliputi Tebing Breksi, Candi Banyunibo, dan Candi Miri.
Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Kabupaten Sleman, Dona Saputra Ginting, mengatakan dalam kajian awal, terdapat tiga segmen utama. Namun, hal itu bersifat fleksibel dan dapat berubah menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah.
"Itu kajian yang mana kajian itu kan sebagai bahan untuk pengambilan kebijakan. Jadi bisa jadi kebijakannya nanti akan ada sedikit perbedaan dengan kajian," kata Dona saat dihubungi wartawan, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, pada area 1 rencananya akan menjadi lokasi stasiun awal di Candi Banyunibo. Sementara di area 2 merupakan stasiun transit area Candi Miri. Terakhir area 3 yakni stasiun akhir yang berada di area Tebing Breksi.
"Ini rencananya, tapi dengan catatan ini masih kajian. Jadi ada kemungkinan penyesuaian," jelasnya.
Lebih lanjut, Dona menjelaskan sampai saat ini proses perizinan proyek ini masih berproses. Terutama terkait dengan KKPR atau Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang.
Sebab, beberapa lahan yang digunakan untuk proyek kereta gantung berstatus Lahan Baku Sawah (LBS) dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Oleh karena itu, pihaknya sedang melakukan pembersihan data lahan-lahan tersebut.
"Di tata ruang, kita sekarang prosesnya sedang pengajuan untuk cleansing LBS karena di titik-titik pengembangan itu ada beberapa itu yang masuk LSD, LBS," ujarnya.
Dona melanjutkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan bupati termasuk Kementerian ATR/BPN untuk selanjutnya mengajukan data LBS ke pemerintah pusat.
"Itu sudah kita usulkan bagian dari cleansing LBS. Jadi, supaya nanti dia tidak termasuk di zona LBS lagi," ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala DPMPTSP Sleman, Triana Wahyuningsih, mengatakan mendapatkan tawaran investasi di Kapanewon Prambanan. Proyek itu berupa wahana wisata kereta gantung dengan nilai investasi sekitar Rp 200 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebut bahwa ide pembangunan kereta gantung tersebut murni berasal dari investor. Adapun, sikap Pemkab Sleman mendukung setiap investasi yang masuk karena dinilai dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD).
"Itu benar-benar ide dari investor. Pemerintah Kabupaten Sleman akan mendukung setiap investasi karena nanti kaitannya dengan penambahan PAD, dengan adanya kereta gantung berarti pajak hiburan dan sebagainya bisa masuk," kata Triana kepada wartawan, Kamis (7/5).
Triana mengatakan Pemkab Sleman turut mendampingi proses perizinan proyek tersebut. Menurutnya, tahapan awal yang harus dipenuhi adalah KKPR atau Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang.
Dari hasil kajian tata ruang, lokasi proyek disebut sesuai untuk pengembangan wisata buatan.
"Untuk awalnya memang harus memiliki KKPR dulu, kesesuaian tata ruang. Kalau tata ruang ini memang sudah sesuai di sana untuk kegiatan pengembangan wisata buatan," kata dia.
(apl/apl)












































Komentar Terbanyak
Mencuatnya Dugaan Kekerasaan Seksual Libatkan Dosen UPN Veteran Jogja
Purbaya soal Prabowo Sebut 'Orang Desa Tidak Pakai Dolar': Untuk Hibur Rakyat
Siasat Keji Istri Ketahuan Selingkuh Lalu Gorok Suami di Parangtritis