Menyapa Den Baguse Ngarso, Bapak-bapak yang Bikin Generasi 90-an Geregetan

Menyapa Den Baguse Ngarso, Bapak-bapak yang Bikin Generasi 90-an Geregetan

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 03 Sep 2026 06:31 WIB
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat ditemui di kediamannya Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (3/9/2026)
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat ditemui di kediamannya Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (3/9/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Bagi generasi 90-an, serial sitkom Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Jogja tentu tak asing di telinga. Salah satu tokoh yang paling membekas ialah Den Baguse Ngarso, karakter antagonis yang angkuh, haus jabatan, namun kerap mengundang tawa.

Di balik karakter itu, ada sosok Susilo Nugroho. Peran Den Baguse Ngarso yang dimainkannya selama bertahun-tahun membuat namanya dikenal luas. Namun, Susilo mengaku tak pernah bercita-cita menjadi seniman, apalagi artis. Dunia seni peran, menurutnya, hanya mengalir mengikuti kesenangannya sejak kecil.

"Kalau dibilang menyeriusi (seni), angel ya. Kalau senang, iya. Saya senang. Tapi kalau menyeriusi, saya orangnya nggak pernah konsisten," ujar Susilo saat ditemui di kediamannya di Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (24/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susilo bercerita, kecintaannya terhadap seni bermula sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, anak-anak di kampung umumnya menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan berolahraga atau berkesenian.

"Zaman saya itu kegiatan anak-anak menjelang remaja sampai dewasa ya dua, olahraga sama kesenian. Pulang sekolah ya dolan. Dolannya olahraga atau kesenian. Bukan karena mau jadi atlet atau pelaku seni, memang dolannya begitu," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Dari kebiasaan itulah ia mulai mengenal dunia drama. Ia tampil dari panggung-panggung kampung, bergabung dengan berbagai kelompok teater, hingga akhirnya ikut mendirikan Teater Gandrik pada era 1980-an.

"Saya itu enggak sekolah seni, enggak kuliah seni. Nek ditakoni teori ya ora ngerti. Ya cuma senang saja terus ikut," ucapnya.

Meski namanya kemudian identik dengan dunia seni peran, Susilo mengaku tak pernah merasa harus mengejar popularitas.

"Kalau orang bilang nama saya besar karena seni peran ya monggo. Tapi saya enggak pernah merasa harus mempertahankan nama besar itu. Wong saya cuma senang kok," ungkapnya.

"Dulu kalau dibilang seniman rasanya kok kebesaran. Dibilang artis juga bukan. Saya ya pelaku seni saja, senang kesenian, titik. Saya enggak pernah punya target harus punya banyak penggemar atau karya hebat," lanjutnya.

Awal Mula Bergabung di Mbangun Deso

Perjalanan Susilo menuju Mbangun Deso pun sebenarnya tak direncanakan. Kesempatan itu datang ketika ia masih aktif bermain drama dan ketoprak yang direkam di studio TVRI Yogyakarta.

Di lokasi itulah ia bertemu dengan salah satu pengelola program Mbangun Deso. Menurut Susilo, saat itu acara tersebut mulai ditinggalkan penonton karena terlalu banyak berisi materi penyuluhan dari berbagai dinas.

"Acara Mbangun Desa waktu itu sudah tidak disenangi penonton. Padahal televisi baru satu, cuma TVRI," katanya.

Melihat kondisi itu, Susilo memberanikan diri menyampaikan pendapat kepada pengelola program. Menurutnya, materi penyuluhan sebaiknya dipersingkat, sementara unsur cerita dan humor diperbanyak agar masyarakat lebih tertarik menonton.

"Saya bilang, penyuluhannya dikurangi, disederhanakan saja. Terus ceritanya, guyonannya ditambah. Jadi orang itu nonton pertunjukan, bukan cuma teori," ujarnya.

Alih-alih menolak usul tersebut, pihak TVRI justru menantangnya untuk membuktikan idenya.

"Mereka bilang, 'Ya kamu saja yang buat'," kenangnya.

Tantangan itu diterima. Bersama rekannya, Susilo mulai menyusun naskah baru. Mereka mengubah Mbangun Deso menjadi drama komedi pendek yang tetap memuat pesan penyuluhan, tetapi dikemas lebih ringan dan menghibur.

"Isinya sinetron pendek, ada unsur humornya, tapi tetap disisipi penyuluhan sesuai dinas yang meminta," ujarnya.

Menurut Susilo, perubahan konsep itu membuat Mbangun Deso jauh lebih mudah diterima masyarakat. Jika sebelumnya hampir seluruh durasi acara diisi penjelasan panjang dari penyuluh, kini sebagian besar waktu diisi alur cerita, sementara materi penyuluhan hanya disampaikan sekitar lima hingga sepuluh menit.

"Kalau dulu tamu datang cuma tanya cara menanam padi, terus setengah jam isinya menjelaskan tanam padi. Sekarang enggak. Ceritanya yang diperbanyak, penyuluhannya seperlunya saja," katanya.

Pentasnya itu ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat termasuk dinas-dinas yang bertanggung jawab terhadap penyuluhan itu. Dan hasilnya, lebih dari 17 tahun bapak-bapak antagonis itu menjadi tontonan warga.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads