Round-Up

Potret Seram Ogoh-ogoh di Saparan Bekakak Ambarketawang

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 18 Jul 2026 08:04 WIB
Ogoh-ogoh di Saparan Bekakak Ambarketawang Sleman, Jumat (17/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Sejumlah ogoh-ogoh setinggi sekitar 5 meter turut memeriahkan tradisi tahunan Saparan Bekakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman. Berikut potret seramnya ogoh-ogoh tersebut.

Saparan Bekakak digelar pada Jumat (17/7) siang. Sejak pukul 12.30 WIB, beberapa peserta kirab sudah bersiap di lapangan kantor kalurahan Ambarketawang.

Deretan ogoh-ogoh dari peserta kirab dipajang di depan panggung. Para pengunjung pun berebut untuk berfoto dengan ogoh-ogoh berwajah seram.

Ketua Panitia Saparan Bekakak Ambarketawang, Wahyu Saktiaji, mengatakan saparan Bekakak kali ini bertema 'Menjaga Tradisi Merajut Harmoni'.

Ogoh-ogoh di Saparan Bekakak Ambarketawang Sleman, Jumat (17/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

"Karena banyaknya orang yang sekarang punya kepentingan masing-masing, kami menginginkan bahwa ini tetap harus tradisi terjaga. Harmoni yang sekarang mulai bagus harus kita rangkai menjadi sebuah tuntunan dan tontonan," kata Wahyu di Kantor Kalurahan Ambarketawang, Jumat (17/7/2026).

Sebelum puncak prosesi yakni kirab Saparan Bekakak dari Kantor Kalurahan Ambarketawang menuju Situs Gunung Gamping, lebih dulu digelar ritual doa untuk dua pasang boneka bekakak. Setelah itu, dua boneka bekakak dikirab keluar dari Kantor Kalurahan.

Pukul 15.15 WIB, rombongan kirab yang didahului bregada prajurit memulai perjalanan. Diikuti pejabat dengan berkuda dan andong. Lalu terakhir rombongan ogoh-ogoh di barisan paling belakang.

Ogoh-ogoh di Saparan Bekakak Ambarketawang Sleman, Jumat (17/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

"Kalau rombongan kita peserta maksimal untuk tahun ini hanya 25, itu termasuk dengan ada tradisi dan yang lain hanya 9 kelompok, itu pun dari masyarakat Ambarketawang. Karena kita lebih dari itu saya rasa perizinan kita agak berat, agak berat karena kondisi jalan kita," papar Wahyu.

"Rutenya tidak berubah. Tapi seiring dengan jalannya waktu ini kan sekarang kemacetan juga tingkatnya sudah luar biasa. Kami kemarin koordinasi dengan lintas sektoral untuk menjaga supaya masyarakat secara umum bisa tetap melalui walaupun tetap berjalan pelan," imbuhnya.

Ogoh-ogoh di Saparan Bekakak Ambarketawang Sleman, Jumat (17/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Prosesi Puncak

Suasana khidmat terasa di Situs Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping, Sleman, saat prosesi puncak Upacara Adat Saparan Bekakak dilangsungkan sore hari.

Sepasang boneka bekakak yang terbuat dari beras ketan dan beras Jawa disembelih dalam prosesi ini sebagai simbol permohonan keselamatan.

Prosesi ini mengenang juru kunci Gunung Gamping Ki Wiro Suto, Abdi Dalem kepercayaan Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang gugur saat mendapat tugas meninjau gunung Gamping yang kala itu banyak memakan korban yakni penambang.

"Saat itu HB I merasa kehilangan, maka diperintahkan warga masyarakat sekitar untuk mengenang jasa beliau dilakukan ritual penyembelihan bekakak. Bukan berarti sebagai persembahan, tetapi mengingat kesetiaan antara Ki Wirasuto dan Nyi Wirasuto. Dan sampai sekarang kita lakukan sebagai peringatan," kata Ketua Saparan Bekakak Ambarketawang Wahyu Saktiaji, Jumat (17/7/2026).

Prosesi puncak Saparan Bekakak di Situs Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (17/7/2026). Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja

Dibuat oleh warga Ambarketawang, dua boneka bekakak terbuat dari adonan utama ini digiling hingga menjadi tepung. Setelahnya dimasak untuk menjadi bahan baku pembentuk boneka. Ada pula cairan gula merah atau gula jawa yang diidentikkan sebagai darah.

Setelah dikirab, prosesi penyembelihan pun dilakukan, setelahnya badan boneka dibagikan ke masyarakat yang hadir. Satu gunungan buah yang turut dalam kirab juga dibagikan ke masyarakat.

Prosesi puncak Saparan Bekakak di Situs Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (17/7/2026). Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menilai Saparan Bekakak yang lestari ini juga berdampak positif bagi nilai pluralisme masyarakat Sleman pada umumnya.

"Nilai positifnya jelas, melestarikan budaya itu, terus menyatukan umat. Artinya, hikmahnya menjalin silaturahmi dari berbagai wilayah. Pada ini kan sudah menjadi agenda tahunan. Sehingga menarik dari semua wilayah. Nah, ini hikmahnya," ujar Harda.

"Sehingga nanti, ya mudah-mudahan muncul kan kerukunan umat, kebersamaan, muncul nanti gotong royong. Banyak ini pelajaran di sini," pungkasnya.



Simak Video "Video: Memaknai Ogoh-Ogoh Lewat Kreativitas Anak Muda Bali"

(dil/apl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork