Saparan Bekakak 2026 akan digelar di Gunung Gamping, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Sleman, besok. Berikut cerita di balik tradisi penyembelihan boneka bekakak dalam acara saparan tersebut.
Dukuh Gamping Tengah sekaligus Seksi Acara Saparan Bekakak, Suwandi, mengatakan prosesi penyembelihan boneka bekakak ini berawal dari tragedi runtuhnya Gunung Gamping pada zaman dulu yang menewaskan para penambang.
"Kalau secara tujuan atau arti hakikatnya itu adalah wilujengan atau slametan warga sekitar Gunung Gamping," kata Suwandi saat ditemui di kawasan Cagar Alam Gunung Gamping, Sleman, Kamis (16/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, zaman dulu sebagian besar warga Gunung Gamping bekerja sebagai penambang batu gamping.
"Pada waktu itu sering terjadi musibah, yaitu runtuhnya Gunung Gamping dan menimpa para penambang batu gamping. Sering terjadinya itu di bulan Safar," ujarnya.
Suasana kawasan Cagar Alam Gunung Gamping jelang Saparan Berkakak di Ambarketawang, Gamping, Sleman, Kamis (16/7/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Menurut Suwandi, salah satu korban longsor itu adalah Ki Wirasuta, abdi dalem yang dikasihi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Ki Wirasuta bersama istrinya tertimbun longsor dan jasadnya tidak pernah ditemukan.
"Musibah ini menimpa salah seorang abdi dalem yang sangat dikasihi Sri Sultan Hamengkubuwono I, bernama Ki Wirasuta bersama istrinya. Jenazahnya tidak pernah ditemukan," kata dia.
Kabar meninggalnya Ki Wirasuta kemudian sampai kepada Sri Sultan Hamengkubuwono I. Setelah memohon petunjuk kepada Tuhan, Sultan memerintahkan warga menggelar slametan setiap bulan Safar dalam bentuk bekakak.
"Sri Sultan Hamengkubuwono I dawuh kepada warga sekitar Gunung Gamping untuk mengadakan slametan di bulan Safar, tetapi dalam bentuk bekakak," jelasnya.
Suwandi mengatakan, boneka bekakak yang berbentuk sepasang pengantin itu menjadi simbol pengganti tumbal manusia.
"Yang diminta itu tumbal sepasang pengantin. Tidak mungkin seorang raja mengorbankan rakyatnya. Akhirnya digantikan dalam bentuk bekakak seperti yang ada sekarang," kata dia.
Adapun rangkaian Saparan Bekakak, kata Suwandi, diawali prosesi Midodareni pada Kamis malam nanti dengan pengambilan Tirta Donojati di Petilasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Air tersebut kemudian diserahkan ke Balai Kalurahan Ambarketawang bersamaan dengan boneka bekakak.
Besok Jumat (17/7), Tirta Donojati dan bekakak dikirab dari Balai Kalurahan Ambarketawang menuju Gunung Gamping untuk prosesi penyembelihan bekakak yang menjadi puncak acara Saparan Bekakak.
"Kalau nanti malam ada prosesi pengambilan Air Tirta Donojati di Petilasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian bersama penyerahan bekakak diserahkan ke Balai Kalurahan. Besok dikirab dari Balai Kalurahan Ambarketawang, finish-nya ke Gunung Gamping untuk disembelih," pungkasnya.


Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman