BKSDA Sebut Saparan Bekakak Punya Nilai Konservasi, Ini Alasannya

BKSDA Sebut Saparan Bekakak Punya Nilai Konservasi, Ini Alasannya

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 16 Jul 2026 16:48 WIB
Penyembelihan boneka Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping di Situs Gunung Gamping, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (23/8/2024).
Penyembelihan boneka Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping di Situs Gunung Gamping, Kabupaten Sleman, DIY, Jumat (23/8/2024). Foto: Dok. detikJogja
Jogja -

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta menilai tradisi Saparan Bekakak di Gunung Gamping, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Sleman, memiliki nilai konservasi. Menurut BKSDA, tradisi budaya tersebut sejalan dengan upaya pelestarian kawasan dan keanekaragaman hayati.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Wahyu Tri Kuncara, mengatakan tema Batu Gamping Festival II tahun ini adalah Merawat Tradisi, Merawat Konservasi. Tema itu dipilih untuk memadukan pelestarian budaya dengan konservasi sumber daya alam.

"Bagaimanapun konservasi, khususnya konservasi sumber daya alam, harus terus berlangsung untuk kehidupan manusia. Kami memadukan keluhuran budaya yang sudah ada dengan kebutuhan konservasi untuk semesta alam," kata Wahyu saat ditemui di Batu Gamping Festival II di Cagar Alam Gunung Gamping, Sleman, Kamis (16/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, BKSDA ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa konservasi tidak selalu identik dengan larangan. Sebaliknya, konservasi dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

ADVERTISEMENT

"Kita ingin memperkenalkan bahwa konservasi itu tidak hanya berisi larangan-larangan, tetapi dapat berjalan sesuai dengan kehidupan kita dan bermanfaat untuk masyarakat secara berkesinambungan," ujarnya.

Wahyu mencontohkan tradisi jemparingan yang turut ditampilkan dalam Batu Gamping Festival. Menurutnya, olahraga tradisional warisan Sri Sultan Hamengkubuwono I itu sejak dahulu telah menerapkan prinsip-prinsip konservasi.

"Zaman dahulu berburu pun memakai kaidah-kaidah konservasi. Jadi tidak semata-mata memegang panah lalu bisa berburu satwa liar, tetapi ada aturan-aturan yang sudah menjadi budaya dan sebenarnya menganut kaidah konservasi hingga saat ini," jelasnya.

Ia menambahkan, nilai konservasi juga tercermin dalam pelaksanaan Saparan Bekakak. Prosesi penyembelihan boneka bekakak digelar di kawasan Cagar Alam Batu Gamping yang dikelola BKSDA.

"Kawasan cagar alam ini kawasan sangat eksklusif. Istilahnya kami menyebutnya benteng terakhir kawasan konservasi," katanya.

Meski demikian, BKSDA tetap memberikan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi tersebut karena dinilai memiliki nilai budaya yang luhur dan telah berlangsung turun-temurun.

"Karena ini acara budaya yang sudah turun-temurun dan mengandung nilai-nilai luhur, kami sebagai pengelola cagar alam mendukung penuh acara budaya itu dengan memberikan fasilitas agar dapat tetap terselenggara dengan baik," ucapnya.

Wahyu berharap masyarakat semakin memahami bahwa pelestarian budaya dan konservasi alam tidak saling bertentangan.

"Konservasi tidak bertentangan dengan budaya, tidak bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan kita sehari-hari. Justru konservasi mendukung kelestarian untuk kehidupan kita yang lebih baik," pungkasnya.



(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads