Kisah Aji Saka dan Dua Muridnya: Asal Usul Aksara Jawa Beserta Maknanya

Kisah Aji Saka dan Dua Muridnya: Asal Usul Aksara Jawa Beserta Maknanya

Mardliyyah Hidayati - detikJogja
Senin, 30 Mar 2026 14:33 WIB
Aksara Jawa. Kisah Aji Saka, asal-usul aksara Jawa.
Aksara Jawa (Foto: FBS Universitas Negeri Yogyakarta)
Jogja -

Aksara Jawa merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam. Tidak hanya sekadar sistem tulisan, aksara ini juga menyimpan cerita legendaris yang hingga kini masih dikenal luas oleh masyarakat. Salah satunya yang begitu populer adalah legenda Aji Saka beserta dua murid setianya.

Cerita Aji Saka tidak hanya menarik sebagai dongeng, tetapi juga sarat makna moral dan simbol kehidupan. Kisah ini menceritakan tentang kesetiaan, tanggung jawab, serta konsekuensi dari amanah yang diemban. Dari peristiwa tersebut, lahirlah susunan aksara Jawa yang dikenal dengan sebutan hanacaraka.

Lantas, bagaimana kisah lengkap Aji Saka dan dua muridnya hingga menjadi asal usul aksara Jawa? Kalau begitu, yuk simak kisah lengkapnya di bawah!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Aji Saka dan Dua Muridnya dalam Asal Usul Aksara Jawa

Asal usul aksara Jawa hanacaraka tak lepas dari kisah legenda Aji Saka dan dua muridnya. Kisah ini diceritakan dalam buku berjudul Sejarah Aksara Jawa yang ditulis oleh Djati Prihantono.

ADVERTISEMENT

Alkisah pada zaman dahulu ada seorang bernama Aji Saka yang berasal dari Tanah Hindhustan. Dia merupakan anak raja yang ingin menjadi pendeta pintar. Dia gemar mengajar segala hal dan berniat untuk menyebarkan ilmunya ke Pulau Jawa.

Berangkatlah Aji Saka ke Jawa bersama empat muridnya, yakni Duga, Prayoga, Dora, dan Sembada. Kelimanya beristirahat ketika sampai di Pulau Majethi. Kemudian Aji Saka bersama Duga dan Prayoga melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa, meninggalkan Dora dan Sembada.

Dora dan Sembada kala itu diberi titah oleh Aji Saka untuk tidak pergi dari sana. Mereka diberi sebuah keris pusaka Aji Saka dan diperintah menjaganya. Aji Saka berpesan bahwasanya keris tersebut tidak boleh diberikan kepada siapa pun.

Selesai memberi pesan, Aji Saka dan dua muridnya yang lain pergi dari tanah tersebut menuju Pulau Jawa. Tibalah mereka di kerajaan bernama Medhang Kamulan yang dikuasai oleh Prabu Dewata Cengkar. Raja itu suka memakan daging manusia sehingga rakyatnya takut dan memilih pergi dari negeri tersebut.

Di kerajaan tersebut, Aji Saka menjadi guru. Ia suka menolong dan memiliki banyak murid. Di negeri tersebut, Aji Saka dijadikan anak angkat oleh Nyai Randha. Bersama dengan Patih Kyai Tengger, Nyai Randha menjadi murid dari anak angkatnya tersebut.

Pada suatu ketika, sang raja yang gemar makan daging manusia itu tidak lagi memiliki mangsa. Tanpa diduga, Aji Saka menyerahkan diri. Namun, bukannya menjadi santapan, Aji Saka berhasil mengusir raja yang ditakuti rakyatnya itu.

Kala itu, raja yang tak enak hati untuk memangsa Aji Saka hendak menjadikannya seorang bangsawan. Sayangnya Aji Saka menolak tawaran tersebut dan malah mengajukan sebuah permintaan. Aji Saka meminta raja tersebut memberikan tanah seluas ikatan miliknya. Prabu Dewata cengkar mengiyakan.

Diceritakan ketika ikatan tersebut digelar seolah tak berhenti-henti, bahkan sampai ke wilayah Selatan Jawa dekat laut. Prabu Dewata Cengkar pun mengikutinya hingga sampai ke dekat laut tersebut. Setelahnya, tanpa disangka Aji Saka mengibaskan ikatannya tersebut dan membuat raja yang keji tersebut terlempar ke laut. Konon katanya raja tersebut menjadi buaya putih yang menguasai laut Selatan.

Usai raja kejinya wafat, rakyat Kerajaan Medhang Kamulan mengangkat Aji Saka sebagai raja dengan gelar Prabu Jaka atau Prabu Widayaka. Dua muridnya, Duga dan Payoga pun menjadi bupati. Seluruh rakyat merasa gembira dengan kepemimpinannya, begitu pula Aji Saka. Namun, mereka melupakan dua pengikutnya yang ditinggal di Pulau Majethi.

Sekian waktu berlalu, Aji Saka teringat kedua muridnya yang ia tinggal di Pulau Majethi, Dora dan Sambada. Segera saja Aji Saka memerintahkan Duga dan Prayoga untuk menjemput kedua muridnya di pulau itu. Di sisi lain, Sambada pergi setelah mendengar kabar kejayaan sang guru. Ia meninggalkan Dora yang tidak ingin ikut dengan alasan belum mendapat perintah dari guru mereka tersebut.

Perjalanan Sembada pun terhenti sebentar kala bertemu utusan gurunya, Duga dan Prayoga. Tanpa menghiraukan Dora, mereka kembali ke kerajaan yang dipimpin guru mereka. Namun, Aji Saka sebagai guru kembali menitahkan Sembada untuk kembali menjemput Dora. Tanpa membantah, Sembada kembali ke Pulau Majethi untuk menjemput murid Aji Saka sekaligus kawannya itu.

Dora yang dijemput Sembada bukannya ikut, tetapi tetap bersikukuh tinggal di sana, sebab tidak percaya dengan perintah guru mereka yang disampaikan kawannya itu. Maka pertengkaran tak lagi bisa dicegah, dari cekcok kecil hingga saling serang dengan senjata yang mereka punya. Pada akhirnya, kedua murid Aji Saka tersebut meninggal dunia.

Lamanya waktu yang dihabiskan Sembada untuk menjemput Dora membuat Aji Saka khawatir. Ia kembali mengutus Duga dan Prayona untuk ikut menjemput Dora. Sampai di Pulau Majethi, keduanya terkejut mendapati Sembada dan Dora sudah wafat dengan sisa-sisa pertarungan di sekitarnya.

Kondisi Sembada dan Dora tersebut disampaikan oleh dua murid Aji Saka kepada gurunya itu setelah sampai di Kerajaan Medhang Kamulan. Aji Saka yang mendengarnya menjadi merasa bersalah, karena menyadari kesalahannya yang tidak ingat akan perintahnya sendiri. Demi mengenang keduanya dibuatlah aksara hanacaraka dengan kisah mereka di dalamnya.

Aksara Jawa Hanacaraka dan Maknanya

Kisah pertengkaran kedua murid Aji Saka tersebut rapi tersimpan dalam aksara Jawa hanacaraka. Lebih jelasnya, berikut ini aksara hanacaraka dan maknanya yang dikutip dari buku berjudul Tata Bahasa Jawa lan Aksara Jawa oleh Khanifatul SPd.

ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ (ha na ca ra ka)
ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ (da ta sa wa la)
ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ (pa dha ja ya nya)
ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ (ma ga ba tha nga)

Secara berurutan, aksara tersebut dimaknai seperti ini:

· Hana caraka: ada utusan

· Data sawala: saling berkelahi atau bertengkar

· Padha jayanya: sama-sama sakti

· Maga bathanga: sama-sama jadi mayat atau mati

Kalimat-kalimat tersebut bila dirangkai berisi cerita dua murid Aji Saka yang mati. Keduanya, yakni Dora dan Sembada, sama-sama sakti dan teguh dengan prinsip masing-masing. Keteguhan akan perintah dari Aji Saka yang membawa mereka ke pertempuran berakhir kematian keduanya.

Dalam sumber tersebut juga diuraikan mengenai filosofi yang terkandung dalam Hanacaraka, sebagai berikut:

  1. Ha - Hana urip wening suci (Adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci)
  2. Na - Nur candra, gaib candra, warsianing Candara (Pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi)
  3. Ca - Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (Satu arah dan tujuan pada Yang Mahatunggal)
  4. Ra - Rasaingsun hanadulusih (Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)
  5. Ka - Karsaningsun memayuhayuning bawana (Hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)
  6. Da - Dumadining dzat kang tanpa winangenan (Menerima hidup apa adanya)
  7. Ta - Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (Mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup)
  8. Sa - Sifat ingsung handulu sifatullah (Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)
  9. Wa - Wujud hana tan kena kinira (Ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas)
  10. La - Lir handaya paseban jati (Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi)
  11. Pa - Papan kang tanpa kiblat (Hakekat Allah yang ada di segala arah)
  12. Dha - Dhuwur wekasane endek wiwitane (Untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar)
  13. Ja - Jumbuhing kawula lan Gusti (Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya)
  14. Ya - Yakin marang samubarang tumindak kan dumadi (Yakin atas titah atau kodrat Ilahi)
  15. Nya - Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (Memahami kodrat kehidupan)
  16. Ma - Madep mantep manembah mring Ilahi (Yakin dan mantap dalam menyembah Ilahi)
  17. Ga - Guru sejati sing muruki (Belajar kepada guru nurani)
  18. Ba - Bayu sejati kang andalani (Menyelaraskan diri pada gerak alam)
  19. Tha - Tukul saka niat (Sesuatu harus dimulai atau tumbuh dari niat)
  20. Nga - Ngracut busananing manungso (Melepaskan egoisme pribadi manusia)

Demikian kisah Aji Saka dan dua muridnya yang taat serta makna aksara Jawa hanacaraka. Semoga menambah wawasan budaya Jawa kalian ya, Dab!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads