Teater Koma Bicara Keresahan Petani Melalui Pementasan Lakon Bisul Semar

Agus Septiawan - detikJogja
Kamis, 05 Okt 2023 06:01 WIB
Teater Koma mengangkat kegelisahan dan keresahan petani dalam pementasan Bisul Semar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kota Jogja, Rabu (4/10/2023). Foto: Agus Septiawan/detikJogja
Jogja -

Teater Koma mengangkat kegelisahan dan keresahan petani dalam pementasan Bisul Semar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kota Jogja, Rabu (4/10/2023) malam. Pementasan kali ini menyoroti beragam kebijakan pemerintah tentang pangan, termasuk di dalamnya program food estate era Presiden Joko Widodo.

Dalam pementasan ini, sang sutradara Budi Ros juga berperan sebagai tokoh utama, Semar. Sosok ini merupakan representasi dari petani di Indonesia. Adapula tokoh Petruk, Gareng, dan Bagong. Lalu Sutiragen yang digambarkan sebagai istri Semar dan seorang dokter bernama Srimul.

"Saya lahir dari tempat itu para petani, masa kecil hingga hari ini mendengar keluh kesah yang sama," jelasnya ditemui usai pementasan di TBY, Rabu (4/10).

Pementasan diawali dengan sosok Semar yang tertidur di kursi. Tokoh pewayangan ini mengeluh sakit kepala akibat adanya bisul. Dia lalu bercerita bahwa bisul tersebut muncul akibat memikirkan kehidupan petani saat ini.

Potongan-potongan video tentang peristiwa pangan hadir sebagai latar belakang panggung. Mulai dari Indonesia yang pernah berdaulat pangan pada medio 1980-an. Hingga kebijakan Food Estate yang diusung oleh kabinet pemerintahan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

"Petani nggak pernah hidup karena hasil panen dibeli sangat murah, pupuk sangat langka belum lagi birokrasi yang ruwet dalam jual beli pangan dan sebagainya. Di mana selalu masyarakat petani pada posisi paling lemah padahal hasil kerja mereka sangat luar biasa karena semua bisa menikmati," katanya.

Teater Koma mengangkat kegelisahan dan keresahan petani dalam pementasan Bisul Semar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kota Jogja, Rabu (4/10/2023). Foto: Agus Septiawan/detikJogja

Budi Ros menegaskan naskah yang dia tulis bukanlah fiksi. Seluruhnya berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai keluarga petani.

Kehadiran dokter Srimul seakan mampu mengobati penyakit Bisul Semar. Digambarkan saat Semar kembali segar dan berjingkrak-jingkrak. Meski pada akhirnya kembali mengeluh sakit. Budi mengibaratkan ini sebagai terpaan angin segar bagi petani meski hanya sementara.

"Sejak zaman kecil masih mendengar hal yang sama hingga hari ini. Saya kira masih setali tiga uang masih sama. Misal pelihara kambing dan ikan di desa pakai tekor tinggal tunggu waktu gulung tikar. Kan ada sistem, lalu siapa yang mengatur, ada pemerintah dan pengusaha, siapa lagi," bebernya.

Teater Koma mengangkat kegelisahan dan keresahan petani dalam pementasan Bisul Semar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kota Jogja, Rabu (4/10/2023). Foto: Agus Septiawan/detikJogja

Dipilihnya tokoh Punakawan juga memiliki alasan yang kuat. Bagi Budi tokoh-tokoh pewayangan ini mampu merepresentasikan rakyat kecil. Termasuk kehidupan para petani yang hidup di desa-desa.

Selengkapnya di halaman selanjutnya



Simak Video "Video Menyelami Inspirasi Sang Sutradara di Balik Teater Koma 'Kala Padi'"

(rih/rih)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork